Sahuri Bertahan Belasan Tahun Mengais Rejeki dari Nanas Pemalang

  • 09 Feb 2026 10:20 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Di tengah aktivitas harian masyarakat, Sahuri tetap setia menjajakan nanas Pemalang di lapaknya yang sederhana. Pria yang telah berjualan selama lebih dari tiga belas tahun ini mengaku tidak pernah berpindah tempat sejak pertama kali membuka usaha tersebut. Konsistensinya menjadi bukti ketekunan dalam mempertahankan mata pencaharian dari hasil penjualan buah segar yang didatangkan langsung dari daerah asalnya.

Sahuri mengatakan, nanas yang dijualnya memiliki ciri khas rasa manis yang berbeda dibandingkan jenis nanas lain. Ia memastikan kualitas buah yang dijual selalu terjaga karena dipasok langsung dari Pemalang. “Kalau nanas ini pasti manis, kalau nanas lain kadang ada kecutnya,” ujarnya.

Dalam sehari, Sahuri biasanya membawa sekitar 70-100 buah nanas untuk dijual. Jumlah tersebut dapat habis sekitar 30-40 buah per hari, tergantung kondisi pembeli. Ia menjual nanas dalam bentuk potongan siap konsumsi seharga Rp10.000 per bungkus, sementara untuk buah utuh dijual seharga Rp13.000 karena ukurannya lebih besar. “Kalau yang buah utuh lebih mahal karena lebih gede,” katanya.

Lapak Sahuri buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Ia mengaku jarang libur kecuali ada keperluan mendesak, seperti pulang kampung. Rutinitas ini dijalaninya dengan disiplin demi menjaga penghasilan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menurut Sahuri, nanas yang sudah dipotong dapat bertahan hingga dua hari jika disimpan di lemari pendingin. Sementara itu, nanas utuh dapat bertahan hingga tiga atau empat hari dalam kondisi baik. Ia mengingatkan bahwa buah nanas tidak dapat disimpan terlalu lama karena kualitasnya akan menurun seiring waktu.

Mayoritas pembeli nanas di lapaknya berasal dari kalangan pekerja. Mereka biasanya membeli nanas sebagai buah segar untuk dikonsumsi langsung. Selain itu, ada juga pembeli yang menggunakan nanas sebagai campuran dalam sajian buah. “Kebanyakan yang beli orang kerja,” ucapnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Sahuri tetap optimistis melanjutkan usahanya. Ia bahkan berencana tetap berjualan selama bulan puasa mendatang. Baginya, berjualan nanas bukan sekadar pekerjaan, melainkan sumber penghidupan yang telah dijalani selama bertahun-tahun dengan penuh kesabaran dan ketekunan. (AAN)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....