Batik Allussan Sleman Mantap Menembus Pasar Dunia

  • 03 Feb 2026 15:20 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Usaha batik lokal asal Sleman, Batik Allussan, terus menunjukkan eksistensinya di tengah persaingan industri fesyen nasional hingga internasional. Berdiri sejak 2005, Batik Allussan dikenal konsisten memproduksi batik tulis, batik cap, dan batik cap kombinasi tulis dengan tetap memegang teguh pakem tradisi batik Jawa.

Manajer Batik Allussan Raden Tumenggung Prayudha Reza Adipuro, S.E. menyampaikan bahwa usaha ini dirintis oleh kedua orang tuanya Bapak Bowo dan Ibu Sri Lestari yang juga sebagai owner menjadi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) keluarga . Produksi awal dikelola langsung oleh orang tuanya, sementara dirinya sejak kecil telah terlibat dalam proses desain. “Sejak Sekolah Dasar (SD) saya sudah suka menggambar, sampai akhirnya sekarang fokus sebagai desainer dan manajer dalam meneruskan dan mengembangkan usaha batik keluarga,” ujarnya.

Batik Allussan memiliki outlet pusat di Dusun Jodak, Sumberadi, Mlati, Sleman, serta sekitar 13 cabang yang tersebar di Yogyakarta, Magelang, dan Jakarta. Beberapa outlet berada di hotel dan pusat perbelanjaan ternama, menyasar wisatawan domestik maupun mancanegara.

Selain pasar dalam negeri, Batik Allussan juga mulai memperluas jangkauan ke Asia Tenggara melalui sistem konsinyasi dan ekspor. Ke depan, pihaknya menargetkan pasar Eropa sebagai langkah lanjutan ekspansi global. “Kami optimistis batik bisa diterima dunia karena nilainya sangat kuat,” katanya.

Keunggulan Batik Allussan terletak pada penggunaan bahan alami dan proses tradisional. Seluruh produk menggunakan malam, canting, cap, serta pewarna alam seperti kulit manggis dan indigo. Produk Batik Allussan juga telah mengantongi sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI), label Jogja Mark, dan sertifikasi halal.

Tak hanya memproduksi batik modern dan kontemporer, Batik Allussan juga memiliki koleksi batik pusaka yang dikerjakan dengan ritual khusus. Prosesnya dilakukan pada malam hari dengan tirakat, tanpa makan, minum, maupun berbicara hingga pagi. Batik jenis ini biasanya digunakan untuk acara sakral seperti pernikahan dan pelantikan jabatan.

Dari sisi harga, produk Batik Allussan dibanderol variatif, mulai dari Rp250.000 hingga ratusan juta rupiah, tergantung pada bahan, tingkat kerumitan motif, serta proses pengerjaannya.

Dalam menjaga kualitas, tantangan utama datang dari ketersediaan bahan pewarna alam yang bersifat musiman. Meski demikian, konsistensi menjadi kunci utama keberlangsungan usaha. “Kurva bisnis pasti naik turun, tapi kami yakin batik tidak akan mati,” ucapnya.

Untuk menjangkau generasi muda, Batik Allussan aktif melakukan riset tren, desain kekinian, serta kolaborasi dengan kalangan artis. Strategi ini dilakukan agar batik tetap relevan tanpa meninggalkan nilai pakem. “Batik itu tidak kalah keren dari brand luar,” katanya.

Di sisi produksi, Batik Allussan menyerap sekitar 250 tenaga kerja yang sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar. Salah satunya Asih pembatik yang telah bekerja lebih dari satu dekade. Ia mengerjakan batik setiap hari dari pagi hingga sore, dengan jumlah produksi menyesuaikan tingkat kerumitan motif.

Pembatik lainnya Jumilah, mengaku telah menekuni dunia batik selama lebih dari 20 tahun. Ia menyebut proses membatik membutuhkan ketelatenan dan ketelitian tinggi. “Kalau motif klasik memang lebih lama, tapi sudah terbiasa,” ujarnya.

Dengan inovasi berkelanjutan, konsistensi kualitas, serta filosofi kuat di setiap motif, Batik Allussan menegaskan komitmennya untuk menjaga warisan budaya sekaligus membawa batik Indonesia semakin mendunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....