Bertahan dari Pandemi, Mbah Suprat Tetap Cintai Bisnis Mebel
- 23 Jan 2026 11:15 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Namanya Mbah Suprat, pemilik usaha mebel rumahan di Gamplong 1, Sumberahayu, Moyudan, Sleman, tetap bertahan menekuni dunia permebelan meski di tengah keterbatasan usia dan modal. Usaha yang dijalaninya bermula saat pandemi Covid-19 melanda, ketika banyak aktivitas terpaksa dilakukan dari rumah dan mendorong masyarakat untuk mencari alternatif pekerjaan.
Ia menuturkan, awal mula terjun ke usaha mebel terjadi secara sederhana dan tanpa perencanaan besar. Kondisi pandemi justru menjadi titik balik untuk kembali mengolah keterampilan yang dimilikinya. “Itu benar-benar dulunya ada Covid, kita belajar untuk pekerjaan di rumah, akhirnya ya reko-reko mabelan itu,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, usaha mebel yang dirintis Mbah Suprat masih berjalan meski belum berkembang besar. Ia mengaku belum mampu menangani produksi dalam jumlah besar karena keterbatasan bahan dan minimnya pesanan skala besar. “Kalau untuk produksi besar mungkin saya belum mampu, tapi kalau ada pesanan besar saya siap, hanya butuh waktu,” katanya.

Produk mebel yang dihasilkan pun beragam dan menyesuaikan permintaan konsumen. Mulai dari joglo, dipan, kursi sudut, kursi makan, hingga model ukiran dan kursi ble-blean turut diproduksi sesuai pesanan. Keragaman produk ini menjadi ciri khas usaha mebel yang dijalaninya secara mandiri.
Di tengah persaingan dunia permebelan yang semakin ketat, Mbah Suprat memilih untuk tidak ambisius memperbesar usahanya. Ia menyadari keterbatasan usia menjadi faktor utama dan lebih memprioritaskan peran anak-anaknya ke depan. “Kalau mau dibesarkan nanti anak-anak yang menangani, mereka lebih cepat cara geraknya,” ucapnya.
Terkait pemanfaatan teknologi dan pemasaran melalui internet, Mbah Suprat menyerahkan sepenuhnya kepada anak-anaknya. Ia menilai generasi muda lebih siap menghadapi perkembangan teknologi dan peluang pasar digital. “Kalau soal Information Technology (IT) saya tergantung anak-anak, seadanya kemampuan mereka,” katanya.
Di usia 73 tahun, Mbah Suprat tetap bersemangat bekerja dengan tujuan utama mendidik dan memberi contoh kepada anak-anaknya. Ia mengaku menikmati banyaknya relasi yang didapat, meski tetap menghadapi kendala seperti pembatalan pesanan dan sulitnya bahan baku. “Saya kerja bukan untuk saya, tapi untuk anak-anak supaya punya semangat hidup dan generasi penerus,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....