Wida’s Collection Bertahan Puluhan Tahun dari Gamplong
- 21 Jan 2026 19:14 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman – Wida’s Collection, usaha kerajinan anyaman dan rajut milik Wida, terus bertahan dan berproduksi sejak berdiri pada 1998 di Desa Gamplong, Sumberahayu, Moyudan, Sleman. Usaha rumahan ini tumbuh dari skala kecil hingga pernah mempekerjakan belasan orang sebelum pandemi Covid-19 melanda.
Wida menuturkan, saat ini jumlah pekerja yang aktif di lokasi produksi tersisa empat orang, sementara sebagian pengerjaan dilakukan oleh perajin lepas di luar rumah produksi. “Kalau dulu saya punya 12 pekerja, sekarang tinggal empat yang di sini, lainnya lepas di luar,” ujarnya.
Beragam produk dihasilkan Wida’s Collection, mulai dari tas, keranjang, meja kursi anyaman, sepatu rajut, topi, karpet, hingga sarung bantal. Bahan baku yang digunakan pun beragam, seperti batik, tenun, kulit, hingga benang nilon yang didatangkan dari berbagai daerah. “Bahannya saya cari sendiri, ada dari Semarang, Jawa Timur, sampai Jakarta,” katanya.

Untuk pemasaran, Wida masih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut dan jejaring pertemanan. Media sosial belum dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan waktu dan tenaga. “Saya apa-apa sendiri, jadi promosi paling banyak ya dari teman ke teman,” ucapnya.
Harga produk yang ditawarkan bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung jenis dan tingkat kerumitan. Wida menyebut harga termurah berkisar Rp20.000, sementara produk termahal pernah dijual hingga Rp400.000. “Sekarang malah saya turunkan, yang dulu Rp250.000 sekarang Rp225.000,” katanya.
Dalam sehari, produksi disesuaikan dengan jumlah pesanan yang masuk. Untuk pengerjaan di dalam rumah produksi, Wida mengaku bisa menghasilkan sekitar 20 item per hari, dan jumlahnya bisa meningkat jika melibatkan perajin luar. “Kalau ditarget, tiga hari bisa di atas 50, tergantung pesanannya,” ujarnya.
Meski tidak lagi seramai sebelum pandemi, Wida tetap optimistis mempertahankan kualitas produknya. Sebagian besar pesanan kini datang dari instansi dan perkantoran, sementara kunjungan wisatawan relatif jarang. “Saya jalani saja, yang penting tetap produksi dan kualitasnya dijaga,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....