Rakernas ASMINDO Dorong Daya Saing, Hadapi Tantangan Global
- 07 Feb 2026 08:22 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Asosiasi Pengusaha Mebel dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) menggelar Rapat Kerja Nasional Dewan Pengurus Pusat (DPP) ASMINDO di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama tiga hari, Jumat-Minggu, 6-8 Januari 2026. Mengusung tema 'Akselerasi Transformasi dan Kolaborasi Berkelanjutan: Fondasi Daya Saing Industri Mebel dan Kerajinan Nasional di Pasar Domestik dan Ekspor' Rakernas ini dalam rangka evaluasi program kerja 2025 dan penyusunan program kerja 2026
Ketua Umum DPP ASMINDO Dedy Rochimat mengatakan, sekitar 90 persen anggota ASMINDO merupakan pelaku UMKM, dan UMKM bagi Indonesia merupakan tulang punggung atau backbone perekonomian nasional. Sedangkan industri konstruksi dan industri furnitur Indonesia memiliki peluang yang cukup besar salah satunya menyerap tenaga kerja, melibatkan rantai pasok yang luas dari bahan baku, produksi, desain, hingga produk jadi, dan mayoritas pelakunya adalah UMKM.
Hanya saja Dedy menyebutkan, industri furniture Indonesia mengalami penurunan hingga bulan November 2025 khususnya ekspor, dampak tekanan tarif dari Amerika Serikat, di sisi lain impor furnitur justru meningkat sebesar 6,40 persen. Hal ini dinilainya berpotensi menggerus pasar domestik dan semakin menekan furnitur lokal khususnya UMKM.
"Kondisi ini menegaskan, bahwa potensi besar yang kita miliki belum sepenuhnya terkonversi menjadi daya saing yang kuat dan berkelanjutan. Situasi ini menegaskan, bahwa industri tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, tantangan yang kita hadapi hari ini menuntut strategi kolektif, transformasi yang nyata dan kolaborasi yang kuat antara seluruh pemangku kepentingan," katanya, dalam sambutan pembukaan Rakernas ASMINDO, di Balai Diklat Industri (BDI) Yogyakarta, Jumat, 6 Februari 2026.
Dedy menjelaskan, tantangan yang dihadapi industri furnitur/mebel ini, mendorong untuk terwujudnya transformasi dan kolaborasi, selaras degnan tema yang mencerminkan kebutuhan mendesak industri mebel agar bergerak lebih cepat, terarah, dan berdampak. Sehingga semakin menegaskan bahwa ASMINDO tidak hanya sebagai wadah, tetapi organisasi yang memberi nilai nyata melalui penguatan SDM, desain, riset dan inovasi, ketersediaan bahan baku, serta penguatan pasar domestik sebagai pondasi dengan ekspor sebagai arah pertumbuhan.
"Kami meyakini bahwa pemerintah mempunyai peran yang sangat penting melalui kebijakan yang tepat dan yang berkelanjutan. Kemudian regulasi serta dukungan terhadap keberlanjutan bahan baku dan standarisasi industri," ujarnya.
| Baca juga: Indonesia Punya Potensi Ekspor Produk Unggas |
Di samping itu, penguatan platform terus dilakukan untuk mempertemukan UMKM, industri, desainer, pemerintah, dan buyer global dalam satu ekosistem yang terintegrasi melalui IFFINA. Dan tahun 2026 ini, akan berkolaborasi strategis dengan menghadiri IFFINA+ untuk menciptakan pengalaman industri yang menyeluruh.
Ketua Umun Kadin DIY GKR Mangkubumi dalam sambutannya yang dibacakan Gunardi Adibrata menyampaikan, produk ekspor unggulan di DIY didominasi oleh sektor industri pengolahan, khususnya mebel kayu dan kerajinan tangan atau kriya menempati posisi kedua setelah produk fashion. Hal ini diakui tidak terlepas dari komitmen pemerintah daerah (Pemda) DIY dalam hal ini Gubernur Sri Sultan Hamengku Buwono X.
"Sri Sultan Hamengkubuwono ke-10 mendorong DY untuk menjadi sentra industri kayu khususnya dalam produk mebel dan kerajinan, untuk meningkatkan nilai ekspor dan memperkuat industri kecil menengah dan jejaringnya. Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut adalah dengan lahirnya pameran internasional Jiffina. Satu-satunya di daerah, yang digagas bersama ASMINDO di Jogja Expo Center," katanya.
GKR Mangkubumi menjelaskan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, inovasi desain, penguatan manajemen usaha, serta kepatuhan terhadap standar keberlanjutan harus tetap menjadi komitmen bersama. Karena, transformasi dan kolaborasi menjadi kunci, tanpa kolaborasi yang kuat antar pelaku usaha, asosiasi, pemerintah, lembaga pendidikan, dan lembaga keuangan, maka penguatan industri tidak akan berjalan normal.
"Dalam konteks Yogyakarta, filosofi Hamemayu Hayuning Bawono mengajarkan kepada kita untuk membangun kehidupan yang selaras, seimbang, dan berkelanjutan. Nilai inilah yang sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan serta penerapan ESG dalam dunia usaha. Artinya, pengembangan industri tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan," ucapnya.
GKR Mangkubumi juga meyakini, dengan sinergi yang kuat antara ASMINDO, Kadin, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan industri infrastruktur dari kerajinan Indonesia akan semakin makin kompetitif dan berdaya saing global. Ia berharap pada Rakernas Asmindu 2026 ini dapat merumuskan program strategis dan langkah-langkah konkret memperkuat konsolidasi organisasi serta mempertegas komitmen dalam membangun industri nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....