Wonosobo Perkuat Ekonomi Daerah Hadapi Ketidakpastian Global

  • 19 Jun 2026 09:28 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Upaya memperkuat ketahanan ekonomi daerah di tengah dinamika dan ketidakpastian global menjadi fokus utama dalam Wonosobo Economic Forum (WEF) 2026 yang digelar di Gedung Sasana Adipura, Wonosobo, pada 14 Juni 2026. Forum yang mengusung tema “Penguatan Ketahanan Ekonomi Daerah melalui Kolaborasi dan Optimalisasi Potensi Lokal di Tengah Ketidakpastian Global” tersebut menghadirkan para pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, hingga organisasi ekonomi masyarakat untuk merumuskan strategi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Wonosobo, Dwi Sukatman, menegaskan pentingnya forum tersebut sebagai ruang dialog konstruktif antara pemerintah dan dunia usaha. Menurutnya, kebijakan publik harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara adil dan berkelanjutan. Ia berharap forum ini melahirkan berbagai gagasan inovatif yang dapat memperkuat fondasi pembangunan daerah. “Kebijakan itu harus bijak. Mungkin tidak dapat memuaskan semua pihak, namun harus mampu memberikan keadilan bagi masyarakat secara luas,” ujarnya.

(Foto: Panitia Wonosobo Economic Forum 2026)

Sementara itu, sambutan Bupati Wonosobo yang dibacakan Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, Drs. One Andang Wardoyo, M.Si., menyoroti pentingnya digitalisasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi pembangunan ekonomi masa depan. Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan investasi, tetapi juga memerlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan adaptif terhadap perubahan zaman.

One Andang menjelaskan bahwa arah pembangunan Wonosobo dalam dua dekade mendatang akan difokuskan pada sektor agribisnis dan pariwisata yang dinilai memiliki potensi besar. Namun demikian, sejumlah tantangan masih harus dihadapi, mulai dari keterbatasan mekanisasi pertanian, pengembangan destinasi wisata yang berkelanjutan, hingga ketergantungan pendanaan daerah terhadap pemerintah pusat. “Sudah saatnya Wonosobo menjadi tujuan wisata, bukan hanya sekadar singgah. Sudah saatnya tantangan dan peluang ini kita wujudkan bersama dalam membangun Wonosobo menjadi lebih baik,” katanya.

Paparan Agni Alam Awirya, M.S.E. (Ekonom Bank Indonesia) Pada Wonosobo Economic Forum 2026. (Foto: Panitia Wonosobo Economic Forum 2026)

Forum tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Konseptor dan Tenaga Ahli Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur sekaligus dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rika Fatimah P.L., Ph.D., Ekonom Bank Indonesia Agni Alam Awirya, Co-Founder Warung Murakabi dan Agradaya Indonesia Asri Sarawati, serta pendiri Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) Taman Siswa (TAMZIS) Bina Utama, Ir. H. Saat Suharto Amjad. Mereka memberikan pandangan mengenai strategi penguatan ekonomi lokal yang berdaya tahan menghadapi tantangan global.

Dalam paparannya, Rika Fatimah memperkenalkan konsep G2R Tetrapreneur sebagai model ekosistem ekonomi berbasis gotong royong yang berpihak pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, konsep tersebut dirancang untuk menjaga keberlangsungan usaha lokal sesuai kapasitas dan kemampuan masing-masing pelaku usaha tanpa harus dipaksa mengikuti pola industri besar yang berorientasi pada kapital.

Paparan Asri Sarawati (Co-Founder Warung Murakabi & Agradaya Indonesia) Pada Wonosobo Economic Forum 2026. (Foto: Panitia Wonosobo Economic Forum 2026)

Rika menjelaskan bahwa G2R Tetrapreneur mengedepankan nilai ketangguhan atau resilience yang berakar pada budaya dan nilai-nilai lokal Indonesia. Ia juga mengungkapkan adanya inisiasi Standar Nasional Indonesia (SNI) Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur sebagai standar kewirausahaan khas Indonesia yang dapat menjadi pedoman bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. Menurutnya, standar tersebut akan membantu pelaku usaha mengukur tahapan perkembangan bisnis sekaligus memperkuat identitas ekonomi berbasis Ekonomi Pancasila.

Pada kesempatan yang sama, Rika menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilainya berpotensi menjadi instrumen strategis untuk menggerakkan ekonomi lokal apabila dijalankan sesuai tujuan awalnya. Ia menekankan pentingnya keterlibatan UMKM dalam rantai pasok program tersebut agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. “MBG kok ngambil produk pabrikan, ya repot,” ujarnya.

Paparan Ir. H. Saat Suharto Amjad (Ketua Pengurus Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) TAMZIS Bina Utama serta pendiri Koperasi Syariah Baituttamwil TAMZIS) Pada Wonosobo Economic Forum 2026. (Foto: Panitia Wonosobo Economic Forum 2026)

Ekonom Bank Indonesia, Agni Alam Awirya, menilai bahwa meskipun kondisi geopolitik global masih penuh ketidakpastian, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan daya tahan yang cukup baik. Menurutnya, sektor akomodasi, makanan dan minuman, serta pariwisata dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Wonosobo. Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi bonus demografi melalui peningkatan produktivitas dan investasi yang berkualitas.

Sementara itu, Asri Sarawati menyoroti tantangan sektor pertanian dalam memenuhi standar pasar nasional maupun ekspor. Menurutnya, melimpahnya bahan baku di Wonosobo belum sepenuhnya diikuti dengan kualitas yang sesuai kebutuhan industri. “Bukannya pabrik di Indonesia tidak mau ambil dari petani, tetapi hasil petani susah memenuhi standar,” ucapnya. Ia menambahkan bahwa peningkatan kualitas produksi dan pendampingan petani menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing komoditas lokal.

Closing Remarks oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, Drs. One Andang Wardoyo, M.Si,Pada Wonosobo Economic Forum 2026. (Foto: Panitia Wonosobo Economic Forum 2026)

Menutup rangkaian forum, Ketua KSPPS TAMZIS Bina Utama, Saat Suharto Amjad, mengajak seluruh pihak untuk membangun optimisme dan keberanian berwirausaha di kalangan generasi muda Wonosobo. Menurutnya, daerah tersebut memiliki potensi talenta yang besar dan perlu didukung oleh lebih banyak figur inspiratif. Ia menekankan bahwa keberhasilan usaha selalu diawali oleh keyakinan dan keberanian untuk memulai. “Bagaimana menciptakan seratus cerita yang membuat ribuan anak muda berani memulai usaha, karena setiap usaha besar dimulai dari sebuah cerita yang percaya,” katanya. Forum ini pun diharapkan menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam membangun ekonomi Wonosobo yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....