AFTECH Petakan Lima Transisi Fintech Indonesia

  • 11 Jul 2026 17:46 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Industri fintech Indonesia mengalami perubahan mendasar, setelah tumbuh ekspansif lebih dari satu dekade. Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) memetakan lima transisi struktural yang akan semakin menentukan daya saing industri.

Mulai dari penguatan fundamental bisnis hingga penciptaan dampak ekonomi dan sosial yang lebih berkelanjutan. Pemetaan ini menjadi pesan utama Annual Members Survey (AMS) 2025–2026 yang melibatkan 141 perusahaan anggota AFTECH.

Baik perusahaan dari sektor sistem pembayaran, pembiayaan digital, aset digital, layanan teknologi finansial, serta platform pendukung ekosistem. Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir menegaskan, ukuran daya saing industri fintech semakin berkembang seiring dengan meningkatnya kematangan industri.

”Industri fintech Indonesia sedang memasuki fase ke arah pendewasaan,” katanya, Sabtu, 11 Juli 2026. ”Daya saing ke depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat perusahaan tumbuh, tetapi oleh seberapa kuat fundamental bisnisnya.”

Juga seberapa konsisten regulasi dapat diimplementasikan, seberapa besar kepercayaan digital yang bisa dibangun. Termasuk seberapa nyata dampak dari keberadaan industri tersebut bagi kebaikan masyarakat dan kemajuan perekonomian.

Berdasarkan AMS 2025-2026, AFTECH mengidentifikasi lima transisi struktural yang akan membentuk arah perkembangan industri fintech indonesia ke depan. Pertama, dari pertumbuhan menuju penguatan fundamental bisnis.

Setelah periode ekspansi yang kuat, profitabilitas, efisiensi, dan kualitas model bisnis menjadi ukuran keberhasilan. Hal ini tercermin dari 77 persen responden yang menjadikan kemitraan strategis sebagai strategi pertumbuhan utama.

Kedua, dari regulasi menuju kepastian implementasi. Seiring kerangka regulasi semakin berkembang, kebutuhan industri bergeser pada konsistensi, harmonisasi, dan kepastian penerapan.

”Sebanyak 84 persen responden menempatkan kepastian dan stabilitas regulasi sebagai dukungan pemerintah yang paling dibutuhkan,” katanya. ”Ketiga, dari infrastruktur digital menjadi sebuah kepercayaan digital.”

Infrastruktur menurut Pandu, tidak lagi hanya dibutuhkan untuk mempercepat konektivitas dan transaksi, tetapi juga untuk membangun keamanan dan kepercayaan. Sebanyak 53 persen responden menempatkan penguatan identitas digital sebagai prioritas utama pengembangan infrastruktur.

Keempat, dari adopsi teknologi menuju penguatan kapabilitas ketika penggunaan teknologi semakin luas. Tantangan berikutnya adalah memastikan kesiapan manusia dan organisasi mampu mengimbanginya.

”Sebanyak 48 persen responden menyebut talenta di bidang data, juga AI,” katanya. ”Dan juga analitik sebagai kategori tenaga kerja yang paling sulit direkrut.”

Kelima, dari inklusi menuju dampak yang berkelanjutan. Setelah perluasan akses menjadi agenda utama, tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat memahami, menggunakan, dan memperoleh manfaat layanan keuangan digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....