Merawat Warisan, Menumbuhkan Masa Depan: Batik sebagai Identitas Budaya
- 04 Okt 2026 14:41 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta— Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) bekerja sama dengan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) dan Kagama Batik & Wastra Nusantara menyelenggarakan seminar nasional bertajuk "Merawat Warisan, Menumbuhkan Masa Depan: Batik sebagai Identitas Budaya dan Ruang Inovasi". Seminar ini mengupas tuntas urgensi pelestarian batik tidak hanya sebagai warisan masa lalu, melainkan sebagai poros identitas, ekologi, hingga instrumen diplomasi budaya di kancah global Sabtu 3 Oktober 2026.
Ketua Kagama Batik dan Wastra Nusantara, Nurhayati Nirmala Sari, S.T.P., membuka rangkaian pandangan dengan mengingatkan kembali bahwa batik merupakan gambaran utuh budaya Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya takbenda setiap tanggal 2 Oktober, di mana setiap motif, warna, dan coraknya menyimpan cerita luhur bangsa.
Dekan FIB UGM, Dr. Nur Saktiningrum, M.Hum., menambahkan bahwa batik bukan sekadar kain, melainkan sebuah teks budaya yang menyimpan doa, sejarah, dan jati diri bangsa. Menurutnya, budaya tidak cukup hanya dipahami di ruang kuliah, melainkan harus dialami dengan tubuh, dirasakan dengan tangan, dan didengar dengan hati.

Senada dengan hal tersebut, mewakili Ketua Umum PP KAGAMA, Sulastama Raharja, S.T., M.T., menyatakan bahwa pengakuan dunia oleh UNESCO menuntut kita untuk tidak berhenti pada kebanggaan semata. Pengetahuan, keterampilan, sejarah, filosofi, kreativitas, dan regenerasi pembatik harus terus diupayakan agar generasi muda memiliki ruang untuk berkreasi sekaligus berakar kuat pada budayanya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., menekankan bahwa kebudayaan mencakup gagasan, perilaku, dan produk budaya. Hal ini terbukti dari sejarah ketahanan ekonomi Indonesia saat krisis 1998, di mana sektor batik menjadi salah satu penggerak utama. Kini, batik tumbuh dinamis di berbagai daerah—mulai dari Purworejo, Magelang, Jawa Timur, hingga Papua—serta bertransformasi menjadi perilaku budaya dan alat diplomasi internasional yang adaptif bagi lintas generasi.

Keynote speaker Dr. Eng. Ir. Laretna Trisnantari Adishakti, M.Arch. (Dosen UGM & Chair UNESCO Chair in Heritage Cities Conservation and Management) membawakan materi bertajuk “Muliakan Kearifan Lokal Batik & Olah Inovasi: Batik Regeneratif, Membumi & Mendunia”. Ia menjelaskan bahwa keaslian batik tulis menggunakan malam panas pada canting atau cap dengan proses pencelupan warna alam (seperti indigo dan soga) memiliki akar kesejarahan ekologis yang panjang, yang juga terekam dalam relief candi dan cerita wayang.
Peran batik dalam diplomasi budaya tercatat melintasi sejarah panjang, mulai dari jalur rempah (Tirthayatra), pengaruh kain Patola India abad ke-16 yang melahirkan Batik Nitik (meraih Indikasi Geografis pada 2020), hingga kunjungan Raja Thailand Rama V (Chulalongkorn) pada tahun 1871, 1896, dan 1901 yang memborong ratusan lembar batik Jawa. Jejak global ini terus berlanjut melalui pameran internasional, seperti pameran APATANASU KIZUNA di Shinjuku, Jepang (Agustus 2026), yang memperkuat kerja sama kerajinan tangan Indonesia dan Jepang.
Menatap masa depan, Dr. Laretna menekankan pentingnya konsep Society 5.0 dan Ekonomi Regeneratif—menggabungkan pertumbuhan ekonomi, pemulihan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat melalui perlindungan terhadap kerajinan tangan batik asli serta pendirian museum dan perpustakaan batik.
Sesi berikutnya menghadirkan narasumber dr. CHR. Sulistyono, M.Sc., FISQua (putra Nyah Kiok) yang memaparkan materi "Menghidupkan Kembali Warisan Batik Lasem: Pelestarian, Dokumentasi, dan Revitalisasi Batik Nyah Kiok". Berdasarkan catatan Carita Lasem karya R. Panji Kamzah (1858) dan literatur sejarah, tradisi batik di Lasem bermula sejak tahun 1431 yang diajarkan oleh Na Li Ni di daerah Kamendhung dengan akulturasi budaya lokal, Majapahit, dan Tiongkok.
Masa kejayaan batik Lasem tercatat pada tahun 1860-an dengan ribuan pembatik wanita serta spesialisasi perdesaan yang jelas (seperti Mola di Karangturi, Ngelontongi di Pandan/Ngropoh, hingga pewarnaan menggunakan akar mengkudu dan daun Indigofera untuk jenis Bangbangan, Bang Ungu, Bang Biron, Bang Ijo, dan Kelengan).
Untuk menjaga kemurnian tradisi tersebut, revitalisasi Batik Tiga Negeri Nyah Kiok digalakkan kembali sejak April 2024. Dengan mempertahankan pakem pola flora dan fauna klasik—seperti godong pring, boketan, burung hong, kilin, naga, hingga kembang seruni—serta membubuhkan cap logo khusus pada produk premiumnya, warisan leluhur ini dihadirkan kembali secara klasik dan tradisional agar tetap hidup dan lestari di tengah zaman.(zika)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....