Semangat Pelestarian dan Inovasi dalam Seminar Hari Batik Nasional 2026
- 04 Okt 2026 14:36 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta— Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) bekerja sama dengan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) menyelenggarakan seminar bertajuk "Merawat Warisan, Menumbuhkan Masa Depan: Batik sebagai Identitas Budaya dan Ruang Inovasi". Seminar ini menyoroti pentingnya menjaga eksistensi batik tidak hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai ruang kreativitas dan identitas bangsa yang terus hidup.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Dr. Nur Saktiningrum, M.Hum., dalam sambutannya menegaskan bahwa batik telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya takbenda. Menurutnya, batik dapat bertahan bukan semata-mata karena dipajang di museum, melainkan karena terus dipakai oleh masyarakat.
"Batik bukan sekadar melestarikan, tetapi merawat dengan cinta, memahami maknanya, lalu mewariskannya dalam keadaan tetap hidup," ujar Dr. Nur Saktiningrum.
Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, FIB UGM mewajibkan kelas-kelas praktik kebudayaan bagi seluruh mahasiswa—seperti kelas tari, gamelan, dan batik—agar mereka dapat langsung memegang canting, menorehkan malam, serta melatih kesabaran dan ketelitian.
Senada dengan hal tersebut, mewakili Ketua Umum PP KAGAMA, Bapak Sulastama Raharja, S.T., M.T., menyampaikan bahwa batik menyimpan pengetahuan, sejarah, filosofi, hingga identitas budaya antargenerasi. Oleh karena itu, regenerasi pembatik, dokumentasi sejarah, serta ruang berkreasi bagi generasi muda harus terus didorong. Seminar ini juga menghadirkan narasumber ahli seperti Dr. Sulistiyono dan Mas Aji Setyowijaya (alumni UGM) untuk membagikan pengalaman dalam menjaga tradisi sekaligus membuka ruang inovasi.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening, mengungkapkan bahwa sektor batik terbukti menjadi salah satu penggerak utama perekonomian Indonesia sejak krisis ekonomi 1998. Hingga kini, batik berkembang pesat di berbagai daerah seperti Purworejo, Magelang, Jawa Timur, hingga Papua dengan ciri khas warna lokalnya.
Batik kini tidak hanya menjadi perilaku budaya dan alat diplomasi internasional yang kuat, tetapi juga sangat fleksibel menembus lintas generasi, di mana anak muda masa kini terbiasa memadupadankannya dengan pakaian modern seperti celana jeans.
Sesi inti seminar menghadirkan dr. CHR. Sulistyono, M.Sc., FISQua (putra Nyah Kiok), yang memaparkan materi bertajuk "Menghidupkan Kembali Warisan Batik Lasem: Pelestarian, Dokumentasi, dan Revitalisasi Batik Nyah Kiok".

Berdasarkan buku CARITA LASEM, tradisi batik di Lasem dimulai sejak tahun 1431 oleh Na Li Ni di Kamendhung dengan pengaruh lokal Majapahit dan Tiongkok. Masa keemasan batik Lasem tercatat pada 1860-an dengan ribuan pembatik wanita, yang kemudian direvitalisasi kembali oleh keluarga melalui Batik Tiga Negeri Nyah Kiok sejak April 2024 menggunakan pola, logo, cap, serta isen-isen lama demi menjaga keaslian pakem tradisionalnya. (aida)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....