Pembiasaan Bahasa Jawa Tiap Kamis Wahana SMPN 1 Turi Perkuat Karakter Siswa

  • 31 Agt 2026 20:16 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – SMP Negeri 1 Turi, Kabupaten Sleman, rutin mengimplementasikan penggunaan bahasa Jawa setiap hari Kamis. Ini menjadi upaya untuk mendorong pelestarian bahasa Jawa di lingkungan sekolah. Program yang diberi nama “Piwulangan Kamis Jawi” ini sekaligus menjadi upaya sekolah dalam membentuk karakter dan tata krama siswa. Kepala SMP Negeri 1 Turi Hospita Henny Koerniati penggunaan bahasa Jawa tidak hanya diterapkan dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga dalam proses pembelajaran, termasuk saat pergantian jam pelajaran.

Nggih campur-campur, belum bisa murni Bahasa Jawa semua, tapi minimal itu meningkatkan karakter anak-anak,” ujar Henny, Senin, 31 Agustus 2026.

Hospita menjelaskan pembiasaan penggunaan bahasa Jawa ini berawal dari keprihatinannya terhadap kemampuan siswa dalam memahami bahasa Jawa. Bahkan, guru dan orang tua juga menghadapi tantangan yang sama karena semakin jarang menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memperkuat pembiasaan, Henny turut menciptakan lagu sederhana berbahasa Jawa. Melalui lagu ini, siswa diajak mengenal bahasa Jawa sekaligus nilai kesopanan, unggah-ungguh, dan tata krama.

“Minimal ketika anak mendengarkan kita berbicara dengan santun, unggah-ungguh, tata kramanya itu ada. Anak-anak karakternya terbentuk. Yang dulunya bicara kasar, sekarang sudah bisa (bahasa Jawa, red),” ucapnya.

Hospita mengakui, penerapan bahasa Jawa di sekolah cukup menghadapi tantangan. Sebagian siswa dan guru masih kesulitan memahami kosakata bahasa Jawa. Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi alasan penting bagi sekolah untuk terus membudayakan penggunaan bahasa Jawa. Meski demikian, pembiasaan penggunaan bahasa Jawa kini mulai menunjukkan dampak pada karakter siswa. Bahkan, pembiasaan penggunaan bahasa Jawa ini sempat diapresiasi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Hospita berharap pembiasaan bahasa Jawa di sekolah dapat menghilangkan anggapan bahwa bahasa Jawa merupakan bahasa kuno. Sebaliknya, justru tetap relevan untuk membangun sikap sopan santun dan penghormatan kepada orang tua, guru, teman, maupun masyarakat.

“Ketika mendengar anak mengatakan, ‘Dalem, Bu,’ rasanya berbeda. Bahasa Jawa itu membuat anak belajar bagaimana menghormati orang lain,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....