Tradisi Peringatan Maulid di Indonesia, Dipengaruhi Budaya dan Kearifan Lokal
- 25 Agt 2026 16:59 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya dilakukan melalui kegiatan keagamaan, tetapi juga berkembang menjadi berbagai tradisi khas di sejumlah daerah di Indonesia. Perayaan Hari Kelahiran Rasulullah tersebut dipengaruhi oleh budaya dan kearifan lokal masing-masing daerah dan menjadi tradisi yang sangat berharga dan dihormati.
1. Grebeg Maulud
Grebeg Maulud menjadi salah satu tradisi masyarakat Solo untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan masyarakat. Rangkaian perayaan diawali dengan Sekaten yang berlangsung selama 15 hari. Dalam pelaksanaannya, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar pertunjukan wayang kulit dan musik gamelan. Puncak Grebeg Maulud ditandai dengan kirab gunungan yang berisi hasil bumi, seperti buah-buahan, sayuran, dan berbagai makanan. Gunungan tersebut diarak dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju Masjid Agung Surakarta.
2. Endog-Endogan
Masyarakat Banyuwangi memiliki tradisi Endog-Endogan dalam memperingati Maulid Nabi. Dalam bahasa Jawa, endog-endogan berarti telur-telur. Telur rebus dihias menggunakan kertas warna-warni, kemudian ditancapkan pada batang pohon pisang. Setelah rangkaian acara selesai, telur tersebut dibagikan kepada masyarakat. Tradisi ini memiliki makna tersendiri. Telur menjadi simbol kelahiran Nabi Muhammad SAW, sedangkan hiasan bunga dari kertas melambangkan kesucian dan kemuliaan Rasulullah.
3. Ampyang Maulid
Tradisi ini digelar masyarakat Desa Loram Kulon dan Desa Loram Wetan, Kabupaten Kudus. Dalam perayaan tersebut, warga membawa tandu berisi nasi kepel, buah-buahan, dan sayuran. Tandu kemudian diarak dalam sebuah kirab dan didoakan oleh tokoh agama setempat. Setelah rangkaian acara selesai, berbagai makanan yang dibawa dalam tandu dibagikan kepada masyarakat.
4. Weh-wehan
Berbeda dengan daerah lainnya, masyarakat Kaliwungu, Kabupaten Kendal, memiliki tradisi Weh-wehan. Tradisi ini dilakukan dengan cara bertukar makanan. Berbagai makanan tradisional khas Kaliwungu biasanya disajikan dalam kegiatan tersebut, di antaranya sumpil, jenang sarang, dan dawet. Selain menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi, Weh-wehan juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarwarga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....