Ritual sebelum Pentas Jadi Identitas Jathilan Putro Barong Budoyo
- 29 Jul 2026 13:30 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, SLEMAN – Bagi sebagian penonton, momen yang paling dinantikan dari pertunjukan jathilan adalah saat penari mengalami trance atau yang akrab disebut kesurupan. Namun, sebelum momen itu terjadi, Jathilan Putro Barong Budoyo lebih dulu menjalankan ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun pada malam sebelum pentas.
Ritual diawali dengan mengirim doa dan tahlil di makam Mbah Barong, leluhur yang menjadi asal nama kelompok. Setelah itu, anggota memandikan jaran atau kuda kepang beserta perlengkapan pertunjukan di sendang yang berada sekitar 20 meter di bawah makam. Air dari sendang tersebut kemudian dibawa ke lokasi pertunjukan untuk disebarkan pawang selama pentas berlangsung.

Pengurus Jathilan Putro Barong Budoyo, Irwan Darmanta, mengatakan ritual tersebut terus dijaga sebagai bagian dari identitas kelompok yang berdiri sejak 28 Agustus 2018 di Padukuhan Barongan, Kalurahan Banyurejo, Kapanewon Tempel, Sleman.
"Antara percaya dan tidak percaya, ini memang benar ada," ujarnya.
Kelompok ini berawal dari keinginan warga yang sebelumnya hanya menjadi penonton dan beberapa kali mengundang kelompok jathilan dari daerah lain untuk tampil di kampung mereka. Dari situ muncul gagasan membentuk kelompok sendiri sebagai wadah berkesenian masyarakat. Nama Putro Barong Budoyo diambil dari sosok Mbah Barong, sedangkan kelompok penari putrinya diberi nama Sekar Naron Indonesia.
Selain ritual, Irwan mengatakan momen yang paling ditunggu penonton adalah ketika penari mulai mengalami trance atau biasa disebut kesurupan. Suasana pertunjukan semakin terasa ketika digelar pada malam hari. Iringan gamelan, tata cahaya, serta atraksi para penari membuat jathilan memiliki daya tarik tersendiri bagi penonton.
"Kalau enggak ndadi (kesurupan), kan hanya kayak tari biasa," ucapnya.
Meski tetap menjaga tradisi, Putro Barong Budoyo terus berbenah mengikuti perkembangan zaman. Kelompok yang kini beranggotakan sekitar 50 hingga 60 orang itu terbuka bagi masyarakat dari berbagai daerah. Beberapa anggotanya merupakan siswa SMK Negeri 1 Kasihan dan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang memiliki latar belakang pendidikan tari. Mereka turut mengembangkan garapan tari dan menghadirkan lagu-lagu baru agar pertunjukan tetap menarik tanpa meninggalkan pakem jathilan.
Putro Barong Budoyo juga rutin berkolaborasi dengan seniman dari daerah lain, seperti penari ganong dari Purworejo dan pemain gedruk dari Ambarawa, untuk menghadirkan variasi pertunjukan.
Di tengah munculnya kelompok kesenian modern seperti Salého, Irwan menilai setiap kelompok memiliki peran masing-masing dalam melestarikan budaya. Menurutnya, inovasi perlu dilakukan agar kesenian tetap diminati masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisinya.
"Kami anggap bukan pesaing buat kami, tapi mitra kami dalam melestarikan budaya," katanya.
Pertunjukan Jathilan Putro Barong Budoyo menjadi salah satu penampilan dalam Gelar Karya BBPPMPV Seni dan Budaya. Bagi kelompok ini, menjaga ritual, membuka ruang bagi generasi muda, dan terus berinovasi menjadi cara agar jathilan tetap hidup di tengah perkembangan zaman.(Fatimah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....