Bulan Warisan Dunia 2026 Gelar Wayang hingga Konser MSO di Yogyakarta
- 26 Jul 2026 07:54 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan menyelenggarakan Bulan Warisan Dunia 2026 selama tiga bulan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya memperkuat pelestarian sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai warisan budaya dunia dan warisan budaya takbenda di tengah masyarakat. Kegiatan tersebut mengusung tema "Manjing Ajur Ajer" dengan tajuk Jogja Heritage Alive 2026: Living Heritage, Inspiring the Future.
Tema tersebut mencerminkan kemampuan kebudayaan untuk terus hadir di tengah kehidupan masyarakat serta beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai luhurnya. Melalui tema ini, Pemda DIY ingin menegaskan bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber inspirasi yang tetap relevan bagi kehidupan masa kini dan masa depan.
Penyelenggaraan Bulan Warisan Dunia berangkat dari pengakuan UNESCO terhadap enam warisan budaya yang hidup di Yogyakarta, yakni Wayang, Gamelan, Keris, Jamu, Pencak Silat, dan Sumbu Filosofi Yogyakarta. Selain itu, kegiatan ini juga mengangkat berbagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang berkembang di DIY, seperti Jathilan, Shalawat Jawi, seni pertunjukan rakyat, tradisi lisan, kerajinan tradisional, hingga kuliner.
Pengakuan UNESCO bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah untuk memastikan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap warisan budaya tetap dipahami, dipraktikkan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Dalam rangkaian kegiatan tahun ini, wayang ditempatkan sebagai media utama penyampaian nilai-nilai budaya atau pitutur. Wayang dipandang tidak hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga ruang dialog budaya yang mampu menyampaikan pesan moral, pengetahuan, serta filosofi kehidupan kepada masyarakat secara lebih dekat dan membumi.
Bulan Warisan Dunia 2026 diawali dengan Artistic Collaboration Concert Melbourne Symphony Orchestra bertema Darma Kusuma pada Kamis, 16 Juli 2026 di Concert Hall Universitas Sanata Dharma.
Selanjutnya, digelar Festival Dalang Anak dan Dalang Remaja DIY pada Selasa, 21 Juli 2026 hingga Jumat, 24 Juli 2026 di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta. Festival tersebut menjadi bagian dari upaya regenerasi dalang melalui kompetisi wayang kulit dan wayang golek yang melibatkan peserta terbaik dari seluruh kabupaten dan kota di DIY.
Pada periode yang sama, berlangsung Yogyakarta Gamelan Festival mulai Selasa, 21 Juli 2026 hingga Minggu, 2 Agustus 2026. Puncak kegiatan diselenggarakan pada Jumat, 31 Juli 2026 hingga Minggu, 2 Agustus 2026 di Plaza Ngasem. Festival bertema Rejoice Sukaria itu menjadi ruang pertemuan para pelaku dan pencinta gamelan dari berbagai negara yang telah berpartisipasi sejak festival pertama kali digelar pada 1995.
Puncak Bulan Warisan Dunia akan berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026 melalui Street Art Malioboro Festival. Dalam kesempatan tersebut, Gubernur DIY dijadwalkan menyerahkan Sertifikat Warisan Budaya Takbenda DIY kepada para bupati dan wali kota se-DIY.
Sejumlah agenda dipastikan memeriahkan puncak acara, antara lain 100 Dalang Manjing Malioboro, yakni gerakan budaya yang menghadirkan seratus dalang dari berbagai generasi untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat di kawasan Malioboro. Selain itu, digelar pula parade Shalawat Maulud Jawi dan Jathilan, program Keris on the Street, lokakarya kebaya, batik, dan jamu, hingga pertunjukan pencak silat di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Rangkaian kegiatan juga mencakup berbagai lomba daring, seminar, lokakarya, pameran keris, bazar budaya, kompetisi koreografi pencak silat, serta berbagai kegiatan edukatif yang melibatkan masyarakat dan generasi muda.
Sebagai penutup, penyelenggara menggelar Jogja World Heritage Festival (JWHF) pada pekan keempat September 2026. Festival tersebut menghadirkan konsep Amazing Race yang mengajak peserta menjelajahi kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta sekaligus mengenal lebih dekat nilai-nilai budaya yang hidup di dalamnya.
Melalui penyelenggaraan Bulan Warisan Dunia 2026, Pemerintah DIY berharap dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya dunia dan Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Kegiatan ini juga diharapkan memperkuat dialog antargenerasi serta menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga kebudayaan sebagai sumber inspirasi kehidupan yang harmonis, berkelanjutan, dan bermartabat.
Sebab, warisan budaya bukan sekadar jejak masa lalu, melainkan cahaya yang menerangi perjalanan menuju masa depan. Karena itu, semangat "Manjing Ajur Ajer" diharapkan mampu menghadirkan kebudayaan yang terus hidup, tumbuh, dan memberi makna bagi kehidupan masyarakat Yogyakarta maupun dunia. (Ajeng)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....