Seniman Muda Ajak Gen Z Bangga Melestarikan Kethoprak
- 01 Jul 2026 18:12 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta- Melestarikan kesenian tradisional seperti kethoprak di era gempuran budaya modern bukanlah perkara mudah bagi generasi muda. Tantangan terbesar justru sering kali datang dari lingkungan terdekat, berupa stigma atau ejekan dari sesama teman sebaya.
Hal tersebut terungkap dalam siaran program Kawruh pada Senin (29/6/2026), yang menghadirkan para pegiat seni muda: Oky Trisna Saputra, Azzahra Faisa Maheswari, dan Bagas Yoga Anantyo. Mengangkat tema "Muda Cendikia Berbudaya: Kawula Muda Suka Kethoprak", mereka membagikan realita dan tantangan nyata yang dihadapi Gen Z dalam menjaga warisan budaya Jawa ini.
Menurut mereka, kunci utama untuk menjaga keberlanjutan kethoprak ada pada pola pikir anak muda itu sendiri. Tanpa adanya keterikatan emosional dan ketertarikan yang tulus, upaya regenerasi budaya akan sulit terwujud.
"Kita sebagai anak muda atau Gen Z harus mempunyai rasa suka dan niat terlebih dahulu terhadap kesenian. Kalau tidak dijalani dengan niat dan kesenangan hati, ya tidak bakal bisa untuk meregenerasikan budaya," kata Bagas dalam siaran tersebut.
Salah satu tantangan sosial yang paling sering dirasakan oleh mahasiswa atau anak muda yang terjun ke dunia seni tradisional adalah label "ketinggalan zaman". Kalimat-kalimat bernada miring kerap mereka terima saat memilih latihan kethoprak ketimbang nongkrong di kafe modern.
"Tantangan anak muda sekarang adalah ketika kita mendapatkan perlakuan dari sesama teman dikatakan, 'Cah nom kok seneng budaya, koyo wong kuna' (Anak muda kok suka budaya, seperti orang zaman dulu)," ujar Azzahra.
Namun, alih-alih ciut dan mundur, pernyataan negatif tersebut justru dinilai harus menjadi pemantik semangat yang lebih besar. Stigma tersebut harus diubah menjadi energi tambahan untuk membuktikan bahwa mencintai budaya lokal adalah hal yang keren.
Melalui ruang siar tersebut, Oky, Azzahra, dan Bagas menyelipkan pesan mendalam sekaligus ajakan bagi seluruh generasi muda, khususnya di Yogyakarta, untuk mengambil tanggung jawab pelestarian ini.
"Nek udu awake dhewe terus arep sopo meneh? (Kalau bukan kita sendiri, lalu siapa lagi?). Mari kita menjadi seniman muda yang kalcer (berbudaya)," tegas mereka.
Istilah kalcer yang populer di kalangan Gen Z kini coba digeser maknanya oleh para pemuda ini—bukan lagi soal tren fesyen Barat atau musik modern, melainkan tentang bangga memakai identitas lokal dan nguri-uri (merawat) budaya Jawa lewat panggung kethoprak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....