Berawal Otodidak hingga Menjadi Maestro, Subandi Giyanto Tekuni Seni Lukis Kaca
- 15 Jul 2026 14:06 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Bantul – Seni lukis biasanya identik dengan menggoreskan cat di atas kanvas. Namun, hal berbeda dilakukan oleh seniman kawakan bernama Subandi Giyanto, yang memanfaatkan kaca sebagai media untuk melukis tokoh pewayangan. Bahkan, karyanya pernah menjadi cendera mata bagi tamu kenegaraan di era Presiden Soeharto.
Ditemui di kediamannya di Padukuhan Gendeng, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, pria 68 tahun tersebut tampak sedang menggambar garis dan bentuk pada selembar kaca. Setelah motifnya terbentuk, barulah cat akrilik ditorehkan sesuai corak warna yang diinginkan.
Subandi mengungkapkan, dirinya sudah menekuni dunia lukis kaca sejak tahun 1979. Bermula saat Subandi yang baru saja lulus dari SMA hendak melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Saat menunggu masuk kuliah, ia ditawari oleh temannya untuk mengajar seni melukis kaca.
“Tapi sebenarnya saya tidak bisa (melukis kaca) karena saya itu bisanya menyungging (mewarnai) wayang. Tapi teman saya meyakinkan saya bisa,” ucapnya, Selasa, 14 Juli 2026.
Subandi akhirnya mengiyakan tawaran tersebut. Apalagi saat itu dirinya membutuhkan biaya untuk membayar kuliahnya.
“Akhirnya saya ke Jakarta dan disuruh mengajari adik teman saya. Jadi ternyata melukis kaca itu tekniknya terbalik. Terbalik dari sudut pandang orang yang membuat wayang,” katanya.

Secara rinci Subandi menjelaskan, melukis kaca dimulai dari membuat garis luar atau bentuk yang ingin dibuat. Sementara dalam pembuatan wayang, warna muda terlebih dulu digoreskan sebelum warna yang lebih tua.
“Membuat lukisan kaca itu warna hitam dan garis-garinya dibuat dulu, baru warna tua terus warna muda. Jadi yang ditonjolkan dulu bentuk apa dulu. Kalau di wayang itu terbalik, karena garisnya di akhir,” ujarnya.
Setelah beberapa saat beradaptasi, Subandi akhirnya mampu menguasai teknik melukis kaca dan terus berkarya hingga saat ini. Bahkan, hasil karyanya sempat menjadi langganan cendera mata saat era Presiden Soeharto.
“Tahun 90-an itu karya saya dijadikan oleh-oleh untuk tamu-tamu dari luar negeri. Jadi tamu tersebut ditanya tanggal lahirnya lalu dikirimkan ke saya. Selanjutnya saya buatkan karya dengan penanggalan kalender Jawa,” ucapnya menambahkan.
Selain itu, sejumlah penghargaan juga telah berhasil didapatkan. Bahkan, karya Subandi pernah bertengger di kancah internasional.
“Tahun 2013 saya mendapat Anugerah Kebudayaan dari Bupati Bantul, saya juga masuk buku profil seniman se-DIY nomor 240, tahun 2015 karya saya dikoleksi oleh Galeri Nasional, dan pernah juga dipajang di galeri di Prancis,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....