Sesaji Ruwat Jagat Teguhkan Harmoni Manusia, Alam, dan Budaya

  • 04 Jul 2026 10:15 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Yayasan Taman Sesaji Nusantara kembali menggelar Upacara Sesaji Ruwat Jagat sebagai rangkaian laku budaya dan spiritual Nusantara yang bertujuan meneguhkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Upacara sakral tersebut berlangsung pada Kamis malam, 2 Juli 2026, mulai pukul 19.00 WIB di Omah Batik Sekar Turi Gatak, Donokerto, Turi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatan tersebut merupakan puncak dari rangkaian ruwatan yang telah diselenggarakan secara bertahap sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, Yayasan Taman Sesaji Nusantara mengadakan Ruwatan Diri di Kotagede pada 30 April 2026, kemudian dilanjutkan dengan Ruwat Nagari di Berbah, Sleman, pada 26 Juni 2026. Tahapan tersebut mengusung semangat bahwa proses meruwat jagat harus diawali dengan meruwat diri sendiri.

Upacara mengangkat tema "Sapta Batari Sapu Jagat" dan dipimpin langsung oleh Ketua Umum Yayasan Taman Sesaji Nusantara, Eko Hand. Sekitar 70 spiritualis, budayawan, seniman, akademisi, simpatisan, serta masyarakat umum turut hadir mengikuti prosesi yang berlangsung khidmat. Selain ritual budaya, peserta juga mengikuti ruang wruh, yakni dialog hening yang menjadi media refleksi spiritual sekaligus ruang berbagi pemahaman mengenai nilai-nilai kebudayaan Nusantara.

Ki Supriyadi Sapta menjelaskan bahwa Ruwat Jagat bukan sekadar seremoni budaya, melainkan ruang kontemplasi yang mempertemukan manusia dengan dirinya sendiri, sesama manusia, alam, dan semesta. Menurutnya, tradisi tersebut mengandung nilai-nilai luhur yang relevan untuk terus dihidupkan di tengah kehidupan modern. "Ruwat Jagat merupakan refleksi spiritual dan batin, ruang ilmu pengetahuan laku kebudayaan Nusantara, sekaligus ruang berdialog dengan alam semesta," ujarnya.

Yayasan Taman Sesaji Nusantara kembali menggelar Upacara Sesaji Ruwat Jagat bertema "Sapta Batari Sapu Jagat" sebagai laku budaya dan spiritual Nusantara untuk meneguhkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. (Foto : Dokumen Taman Sesaji Nusantara).

Ia menambahkan, filosofi yang diusung dalam rangkaian ruwatan adalah "Meruwat jagat dimulai dari meruwat diri." Melalui laku tersebut, setiap individu diajak membersihkan batin, memperbaiki perilaku, dan membangun kesadaran agar mampu menghadirkan kehidupan yang lebih selaras dengan lingkungan serta sesama manusia. "Perubahan besar tidak akan terwujud tanpa dimulai dari pembenahan diri sebagai fondasi utama kehidupan," katanya.

Usai pelaksanaan upacara, sejumlah peserta menyampaikan berbagai pengalaman spiritual yang mereka rasakan selama prosesi berlangsung. Banyak di antara mereka mengaku merasakan suasana yang khidmat, damai, serta munculnya pengalaman batin yang memperkuat keyakinan akan pentingnya menjaga keterhubungan antara manusia, bumi, dan seluruh entitas kehidupan. Nilai tersebut diwujudkan dalam konsep manunggal ing cipta, manunggal ing budi, nyawiji ing kasunyata sebagai bentuk penyatuan kesadaran dengan semesta.

Yayasan Taman Sesaji Nusantara juga menegaskan bahwa semangat "Hamemayu Hayuning Bawana" menjadi landasan utama penyelenggaraan kegiatan tersebut. Filosofi Jawa tersebut dimaknai sebagai upaya merawat keindahan dunia, menjaga keseimbangan kehidupan, serta mempererat rasa persaudaraan antar manusia melalui pelestarian budaya dan nilai-nilai spiritual leluhur.

Menurut penyelenggara, harmonisasi kehidupan tidak hanya dimaknai sebagai suasana damai, tetapi juga keberanian melakukan pembenahan terhadap berbagai bentuk ketamakan, penyimpangan, dan kesewenang-wenangan. Dalam tradisi Nusantara, doa dan mantra yang dilantunkan dalam upacara sakral menjadi simbol harapan agar keseimbangan alam tetap terjaga, sehingga nilai-nilai kebajikan dapat terus hidup sebagai pedoman bersama dalam membangun kehidupan yang lebih adil, harmonis, dan bermartabat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....