Grebeg Besar, Tradisi jelang Idul Adha di Yogyakarta

  • 18 Mei 2026 08:47 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Idul Adha menjadi momentum bagi umat Islam untuk merenungkan keikhlasan melalui ibadah kurban. Selain menyembelih hewan kurban dan ibadah haji, di Indonesia ada sejumlah tradisi menjelang Hari Raya Idul Adha. Salah satu tradisi Idul Adha yang populer di Yogyakarta yaitu Grebeg Besar. Tradisi turun temurun ini identik dengan arak-arakan atau kirab gunungan.

Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Grebeg Besar merupakan tradisi yang digelar oleh Keraton Yogyakarta, untuk memperingati Hari Raya Idul Adha. Tepatnya pada 10 Dzulhijjah pada kalender Islam, atau bulan Besar dalam kalender Jawa. Oleh sebab itu, tradisi tersebut dikenal sebagai Grebeg Besar, sesuai dengan nama bulan pelaksanaannya dalam penanggalan Jawa. Selain di Yogyakarta, tradisi serupa juga ditemui di Surakarta dan Demak.

Tidak hanya Grebeg Besar, ternyata Yogyakarta menggelar dua tradisi grebeg lainnya, yaitu Grebeg Maulud dan Grebeg Syawwal. Jadi, Yogyakarta menggelar tiga upacara grebeg dalam setahun. Sesuai namanya, Grebeg Maulud digelar pada bulan Mulud dalam kalender Jawa, yang bertepatan dengan Rabiul Awal dalam kalender Hijriah. Tradisi Grebeg Maulud bertujuan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhamad SAW, yakni pada 12 Rabiul Awal Selanjutnya, Grebeg Syawwal digelar pada bulan Syawwal dalam kalender Islam, atau Sawal dalam penanggalan Jawa. Tujuannya, untuk menghormati bulan suci Ramadhan, malam kemuliaan atau Lailatul Qadar, serta menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Melansir dari laman Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, kata grebeg atau garebeg berasal dari kata gumrebeg, yang memiliki filosofi sifat riuh, ribut, dan ramai. Hal ini merujuk pada deru angin atau keramaian orang saat berlangsungnya upacara tersebut. Sejarah grebeg berkaitan dengan kemunculan Islam di Tanah Jawa. Theresiana Ani Larasati dalam bukunya “Berbagai Macam Gunungan Dalam Upacara Garebeg (Grebeg) di Keraton Yogyakarta” mengatakan, awalnya grebeg merupakan media dakwah Islam sebagai peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Gagasan grebeg dikemukakan oleh para wali dan disetujui oleh Raja Demak. Cara dakwah tersebut dipilih agar penyebaran Islam dapat menyesuaikan kebudayaan masyarakat yang masih memeluk Hindu dan Buddha. Tradisi grebeg terus dilestarikan oleh penerus Kerajaan Demak, termasuk Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. Tradisi grebeg di Keraton Yogyakarta sudah dilaksanakan sejak masa pemerintahan Hamengku Buwono I. Namun, dalam penyelenggaraannya, tradisi garebeg telah mengalami sejumlah perubahan dan penyesuaian.

Gunungan merupakan simbol kemakmuran, yang kemudian dibagikan kepada rakyat. Gunungan mewakili keberadaan manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Isi gunungan merupakan representasi dari hasil bumi, seperti sayur dan buah serta jajanan tradisional. Ada beberapa macam gunungan yang memiliki ciri masing-masing. Ciri-ciri tersebut meliputi bahan makanan dan bentuk yang berbeda satu sama lain. Beberapa jenis gunungan meliputi, Gunungan Jaler (pria), Gunungan Estri (wanita), Gunungan Darat, Gunungan Gepak, Gunungan Pawuhan, dan Gunungan Picisan.

Dalam kirab, gunungan-gunungan tersebut dibawa oleh para abdi dalem. Para abdi dalem tersebut mengenakan pakain khusus, yakni baju dan peci berwarna merah marun, kain batik biru tua bermotif lingkaran putih dengan gambar bunga di tengahnya. Semua abdi dalem tersebut berjalan tanpa menggunakan alas kaki alias nyeker. Tradisi grebeg adalah salah satu upacara kerajaan yang melibatkan seluruh penghuni keraton, aparat kerajaan, dan seluruh lapisan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....