Tertarik Wayang sejak SD, Dimas Kini Tampil sebagai Dalang Muda di Yogyakarta
- 30 Apr 2026 15:20 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Sosok dalang muda, Dimas Bryan Triantoro, menjadi salah satu penampil dalam pagelaran wayang kulit di Ndalem Yudhanegaran Yogyakarta dalam rangka peringatan World Puppetry Day atau Hari Wayang Dunia ke-23. Mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan Pedalangan ini membawakan lakon Wayang Diponegoro yang mengangkat kisah perjuangan melawan penjajahan.
Meski lahir di Tangerang, ia memiliki latar belakang keluarga dari Gunungkidul, Yogyakarta, yang turut memperkuat kedekatannya dengan budaya Jawa. Ketertarikannya pada dunia pedalangan tumbuh sejak usia dini.
Ia mengaku pertama kali mengenal wayang saat masih kecil, ketika diajak ayahnya menonton pertunjukan dalam Ki Sukoco Gondo Carito di Jakarta. Sejak saat itu, ketertarikannya tumbuh hingga akhirnya serius mendalami seni pedalangan.
"Saya ketika kecil dulu, ketika masih SD, saya ingat dulu diajak nonton wayang sama bapak. Waktu itu yang mendalang Ki Sukoco Gondo Carito, saya melihat dan saya tertarik dengan pagelaran Ki Sukoco. Ia menjadi sosok yang menginspirasi saya untuk mendalami dunia pedalangan," ujar Dimas saat ditemui usai pementasan, Sabtu, 25 April 2026.
Dalam proses belajarnya, Dimas banyak terinspirasi oleh sejumlah dalang ternama seperti Ki Mantep Sudarsono, Ki Bayu Aji, hingga para sesepuh dari Sragen seperti Ki Gondo Darman dan Ki Mulyanto Mangku Darsono. Perjalanan panggungnya dimulai sejak duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD).
Kala itu, ia tampil dalam bentuk fragmen dan belajar langsung dari dalang yang lebih senior. Dimas juga sempat mempelajari gaya pedalangan Surakarta karena keterbatasan akses sanggar gaya Yogyakarta di daerah tempat tinggalnya saat itu.
Di usianya 23 tahun, Dimas mulai menunjukkan eksistensinya di panggung pertunjukan. Penampilannya di Ndalem Yudhanegaran menjadi salah satu langkah penting dalam perjalanannya sebagai dalang muda, terutama dalam membawakan lakon bertema sejarah secara mandiri.
Ke depan, Dimas berharap seni pedalangan dapat terus berkembang dan diminati generasi muda, sekaligus menjadi sarana untuk mengenalkan kembali sejarah dan budaya bangsa kepada masyarakat luas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....