Makna dan Filosofi Angka 21, 25, 50, dan 60 bagi Masyarakat Jawa

  • 23 Apr 2026 09:36 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Dalam Bahasa Jawa, terdapat beberapa angka yang pola penyebutannya berbeda dengan angka lainnya. Angka-angka tersebut yaitu 21, 25, 50, dan 60.

Dikutip dari Kompas.com, Ada beberapa alasan mengapa angka 21, 25, 50, dan 60 berbeda penyebutannya, hal ini berkaitan dengan usia dan fase kehidupan, dimana suku Jawa dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi budaya yang penuh makna dan filosofi.

Angka 21

Penyebutan angka 21 dalam Bahasa Jawa adalah selikur. Kata likur ini dalam Bahasa Jawa diartikan sebagai singkatan dari "linggih kursi" yang berarti duduk di kursi. Sehingga filosofi dari selikur adalah usia di mana manusia memasuki masa dewasa dan mulai mendapat tempat baik dalam pekerjaan, kedudukan, atau bahkan rumah tangga.

Angka 25

Penyebutan angka 25 dalam Bahasa Jawa adalah selawe. Hal ini berbeda dari pola likuran yang berada sebelum dan sesudahnya, seperti patang likur (24) dan enem likur (26). Kata selawe ini dalam Bahasa Jawa diartikan sebagai singkatan dari "seneng-senenge lanang lan wedok" yang berarti masa di mana muncul rasa suka pada diri laki-laki dan Perempuan, sehingga filosofi dari selawe adalah usia di mana manusia mulai merasakan asmara dan masuk ke usia pernikahan.

Angka 50

Penyebutan angka 50 dalam Bahasa Jawa adalah seket. Kata seket ini diartikan sebagai singkatan dari "seneng kethonan" yang berarti senang memakai kopiah atau penutup kepala, sehingga filosofi dari seket adalah usia di mana manusia mulai menua dan harus lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Angka 60

Penyebutan angka 60 dalam Bahasa Jawa adalah sewidak. Kata sewidak ini dalam Bahasa Jawa diartikan sebagai singkatan "sejatine wis wayahe tindak" yang berarti sudah saatnya pergi menghadap Tuhan, sehingga filosofi dari sewidak adalah usia di mana manusia semakin tua dan waktu hidupnya semakin terbatas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....