Pakar Manajemen Dorong Evaluasi Tata Kelola Rumah Sakit

  • 22 Agt 2026 18:22 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di rumah sakit kembali menjadi sorotan masyarakat. Penyebabnya, RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, mencatat BOR sebesar 91,54 persen pada April 2026.

Dari total 497 tempat tidur yang tersedia di RSUD Arifin Achmad, sebanyak 455 tempat tidur terisi pasien. Angka tersebut menunjukkan, cukup tingginya tekanan terhadap kapasitas pelayanan rawat inap yang ada di rumah sakit.

Namun, BOR yang tinggi tidak serta-merta berarti rumah sakit harus menambah jumlah tempat tidur. Dosen Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) UMY, Elsye Maria Rosa menjelaskan, BOR perlu dianalisis bersama sejumlah indikator lain.

”BOR tinggi bisa disebabkan karena memang demand-nya lebih besar daripada supply-nya,” ucapnya, Sabtu, 22 Agustus 2026. ”Namun, bisa juga karena kapasitas yang ada di rumah sakit tersebut, tidak berputar secara optimal.”

Jadi menurutnya, sebelum rumah sakit mengatakan kekurangan tempat tidur, harus dipastikan terlebih dahulu penyebabnya. Apakah masalahnya memang kekurangan kapasitas, atau justru kapasitas yang ada belum dikelola secara optimal.

Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah Average Length of Stay (ALOS) atau rata-rata lama perawatan pasien. Semakin lama pasien menjalani perawatan, semakin lama pula tempat tidur digunakan sebelum dapat ditempati pasien berikutnya.

Kondisi tersebut dapat menjadi lebih kompleks, jika proses kepulangan pasien belum berjalan optimal. Pasien yang secara medis sudah dinyatakan dapat pulang, belum tentu langsung meninggalkan rumah sakit karena prosedur administrasi.

”Misalkan discharge planning, administrasi, hingga persiapan pasien dan keluarga,” ujarnya. ”Jadi, persoalannya bukan hanya keputusan medis untuk memulangkan pasien.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....