Kenapa Kemampuan Matematika Siswa Terus Menurun Drastis?

  • 31 Mar 2026 11:34 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Mata pelajaran matematika kerap dianggap menakutkan oleh sebagian siswa, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga menengah. Padahal, hasil penelitian dari University of Eastern Finland yang dipublikasikan dalam British Journal of Educational Psychology pada akhir 2023 menunjukkan bahwa pada awal masuk sekolah, minat dan persepsi kemampuan anak terhadap matematika cenderung positif.

Namun, dalam tiga tahun pertama pendidikan dasar, minat serta kepercayaan diri siswa terhadap matematika justru mengalami penurunan. Fenomena ini bahkan berlanjut hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Hal ini sejalan dengan hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 2025. Survei tersebut memperlihatkan bahwa skor matematika, literasi, dan sains mengalami tren penurunan secara konsisten sejak 2015.

Dosen Matematika Aljabar FMIPA UGM Prof. Dr.rer.nat. Indah Emilia Wijayanti menyatakan bahwa temuan tersebut sejalan dengan kondisi di perguruan tinggi, khususnya saat penerimaan mahasiswa baru.

“Jika dibandingkan, mahasiswa baru program studi Matematika 5 tahun atau 10 tahun yang lalu memiliki kemampuan berpikir matematis yang lebih mumpuni dibanding sekarang,” kata Indah kepada wartawan, Senin, 30 Maret 2026, menanggapi peringatan Hari Matematika Sedunia yang jatuh 14 Maret lalu.

Menurutnya, penurunan kemampuan literasi matematika tidak lepas dari pemahaman dasar yang diperoleh sejak bangku sekolah dasar dan menengah, yang kemudian berdampak pada proses belajar di perguruan tinggi.

“Sederhananya, jika di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama materi matematikanya berkurang, maka di sekolah Menengah Atas juga berkurang,” katanya.

Ia menambahkan, kemajuan teknologi yang memudahkan siswa dalam mengerjakan soal, serta tingginya distraksi saat belajar, turut menjadi penyebab menurunnya kemampuan matematis generasi saat ini.

“Di sinilah peran pengajar menjadi krusial karena perlu menyajikan pengalaman matematika yang beragam untuk menjaga konsistensi dan fokus para pelajar,” ujarnya.

Indah menegaskan bahwa kunci utama dalam menguasai matematika adalah latihan yang konsisten. Bahkan, mengerjakan soal-soal sederhana sekalipun dapat membantu merangsang kemampuan berpikir logis.

“Dengan berlatih, siswa dan mahasiswa akan mampu meningkatkan kompetensi sendiri, bahkan bisa fokus yang sesuai dengan minat mereka,” ujarnya.

Meski demikian, menurutnya, membangun generasi yang kuat dalam budaya sains bukanlah hal mudah dan tidak bisa hanya dibebankan pada guru atau keluarga semata.

Ia juga menyoroti pentingnya peran kebijakan pendidikan, khususnya dalam pengaturan kurikulum.

“Kurikulum seharusnya membebaskan, jangan terlalu dibatasi oleh pemerintah. Kami universitas, seharusnya diberi kebebasan untuk muatannya, turunkan kapasitasnya, sehingga mahasiswa bisa mengeksplorasi bidang yang diminati di luar matematika,” katanya.

Di tingkat perguruan tinggi, Indah menilai penting bagi kampus untuk memberi ruang eksplorasi lintas bidang agar mahasiswa memiliki pola pikir yang lebih luas dan mampu memahami konsep matematika yang lebih kompleks.

“Kita harus bisa mengemas dengan lebih menarik. Dan ini tidak mudah. Itu tantangan buat si pengajar. Biasanya gini, saya kasih motivasi dulu, kemudian saya masukin teorinya, teorinya kayak gini, lho. Setelah itu mereka baru saya ajak untuk terapkan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....