Siswa SMAN 2 Yogyakarta Selidiki Reaksi Termokimia

  • 01 Sep 2026 20:08 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pembelajaran Kimia materi Termokimia di SMA Negeri 2 Yogyakarta dikemas melalui kegiatan investigasi reaksi eksoterm dan endoterm. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang dilaksanakan Dyah Ayu Nur Aini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA UNY, bersama peserta didik.

Pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang kontekstual dengan menghubungkan konsep Termokimia dengan fenomena serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain memperkuat pemahaman konsep Kimia, kegiatan ini turut mengintegrasikan Sustainable Development Goals (SDGs) 3 tentang Good Health and Well-Being serta SDGs 12 tentang Responsible Consumption and Production.

Siswa SMA Negeri 2 Yogyakarta antusias menyelidiki reaksi eksoterm dan endoterm melalui praktikum Termokimia. (Foto: dok. Lutfi Nurlaili)

Menggunakan model Discovery Learning, peserta didik didorong menemukan konsep berdasarkan hasil pengamatan dan penyelidikan. Kegiatan diawali dengan demonstrasi Elephant Toothpaste sebagai stimulus. Dari fenomena tersebut, peserta didik diarahkan mengamati perubahan yang terjadi dan mengaitkannya dengan reaksi kimia serta perubahan suhu. “Peserta didik tidak hanya menerima konsep, tetapi diajak menemukan dan membuktikannya melalui proses investigasi,” ujarnya pada 1 September 2026.

Selanjutnya, peserta didik dibagi menjadi enam kelompok untuk merumuskan sejumlah permasalahan terkait perubahan suhu dalam reaksi kimia. Mereka mendiskusikan cara menentukan reaksi eksoterm dan endoterm serta hubungan antara perubahan suhu dengan perpindahan kalor. Pada tahap investigasi, setiap kelompok melakukan dua percobaan sederhana menggunakan akuades dengan semen instan serta cuka dengan soda kue.

Peserta Didik Melakukan Investigasi Mengenai Reaksi Eksoterm dan Endoterm. (Foto: dok. Lutfi Nurlaili)

Dalam percobaan tersebut, peserta didik mengukur suhu awal dan suhu akhir menggunakan termometer, mencatat hasil pengamatan, kemudian menghitung perubahan suhu atau ΔT. Data yang diperoleh digunakan untuk mengidentifikasi reaksi yang mengalami kenaikan maupun penurunan suhu sebelum dicocokkan dengan konsep ilmiah mengenai reaksi eksoterm dan endoterm. “Perubahan suhu menjadi salah satu petunjuk penting bagi peserta didik untuk memahami adanya perpindahan kalor dalam suatu reaksi,” ucapnya.

Konsep yang ditemukan kemudian dikaitkan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari melalui contoh hot pack dan cold pack. Hot pack digunakan untuk menjelaskan proses yang menghasilkan efek hangat, sedangkan cold pack menggambarkan proses yang menghasilkan efek dingin. Pengaitan tersebut sekaligus memperkenalkan kontribusi Kimia terhadap kesehatan dan kesejahteraan melalui pemanfaatan produk sesuai fungsi dan kebutuhan. Peserta didik juga diajak memahami pentingnya penggunaan bahan secara tepat dan bertanggung jawab sebagai bagian dari penerapan SDGs 12.

Percobaan Elephant Toothpaste. (Foto: dok. Lutfi Nurlaili)

Melalui pembelajaran yang investigatif dan kontekstual, peserta didik diharapkan tidak hanya mampu membedakan reaksi eksoterm dan endoterm, tetapi juga memahami keterkaitan konsep Kimia dengan kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini sekaligus melatih kemampuan bekerja sama, berpikir kritis, mengolah data, serta menyampaikan hasil penyelidikan berdasarkan bukti. Integrasi SDGs diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa pembelajaran Kimia memiliki peran dalam mendukung kesehatan, kesejahteraan, lingkungan, dan perilaku konsumsi yang bertanggung jawab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....