Panen Raya Brambang Perdana Urban Farming di Atas Rooftop Warga Gemblakan

  • 25 Agt 2026 07:45 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta — Keterbatasan lahan perkotaan kini bukan lagi menjadi penghalang untuk mewujudkan kemandirian pangan keluarga. Hal ini dibuktikan oleh warga Gemblakan Atas, Kemantren Danurejan, Kota Yogyakarta, yang sukses menggelar Panen Raya Urban Farming budidaya bawang merah (brambang).

Bukan memanfaatkan lahan yang luas, panen raya ini dilakukan di rooftop rumah warga memanfaatkan media galon bekas. Kegiatan panen raya tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan bersama jajaran Mantri Anom Kemantren Danurejan, Lurah, serta pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) di lokasi pertanian perkotaan milik warga setempat, Pak Daliman.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan memberikan apresiasi tinggi, atas inovasi pertanian lahan sempit yang diterapkan oleh Pak Daliman. Menurutnya, konsep ini sangat relevan untuk menginspirasi masyarakat kota lainnya dalam menekan pengeluaran belanja dapur sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

"Harapan kami, posisi ini bisa menginspirasi warga kota untuk menanam brambang dengan konsep yang diterapkan di sini oleh Pak Dalimin," katanya, seusai memanen brambang, Senin, 24 Agustus 2026.

Wawan mengungkapkan, konsep pertanian yang diterapkan pak Daliman sangat menginspirasi. Karena diungkapkannya, cara menanamnya menerapkan sistem tumpang sari.

"Brambang dulu selama saty bulan, kemudian juga ditanam bibit untuk cabai, sehingga tiap dua bulanan panen. Begitu brambang dipanen, masih tersisa pohon cabainya yang nanti dalam 2 bulan lagi langsung panen lagi," ucapnya.

Urban Farming yang diterapkan ini, lanjut Wawan, membangun ketahanan pangan dari rumah sendiri. Sehingga kebutuhan harian untuk bahan pangan bisa dihasilkan, ketika ada kelebihan bisa dijual.

"Itulah yang namanya ketahanan pangan, freedom of food," ujarnya.

Wawan menambahkan, daun brambang segar hasil panen sangat diminati untuk bahan masakan rumah tangga, mulai dari campuran telur goreng hingga bahan pelengkap masakan khas seperti lumpia.

Penggagas konsep pertanian, Daliman menjelaskan, teknik tanam tumpang sari ini sengaja dirancang untuk memaksimalkan efisiensi tempat dan waktu panen. Menurutnya, penanaman Bawang Merah dan Cabai diharapkan bisa panen secara kesinambungan.

"Ini pada dasarnya brambang butuh waktu hanya dua bulan, kalau cabai kan hampir empat atau tiga bulan siap, tumbuh. Jadi ngirit. Waktunya lebih, jadi rencana saya ke depan, semua ditanami brambang dulu semua pakai ini rencananya, baru tanamnya cabai," katanya, mengungkapkan.

Memanfaatkan galon air mineral bekas yang diisi racikan tanah, sekam padi, dan pupuk kotoran ayam. Sistem integrasi ini dibangun agar meminimalisir adanya residu yang bisa ditimbulkan.

Daliman mengaku, sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia, pupuk alami didapatkan dari sekam yang menjadi alas bagi kandang ayamnya. Sehingga kotoran ayam tidak berbau dan bisa terurai menjadi media tanam yang dipakai untuk lahan pertanian galonnya.

Metode ini menghasilkan dua manfaat sekaligus, kebutuhan telur keluarga terpenuhi dan media tanam kaya nutrisi didapatkan secara gratis. Dari 1 galon bekas yang ditanami 3 umbi starter brambang, saat panen mampu menghasilkan rata-rata 5 hingga 10 umbi baru yang sehat per titiknya.

"Ini awalnya setengah kilo Brambang, satu galon ini saya kasih 3 umbi brambang. Nanti hasilnya satu umbi bisa berkembang jadi 8 umbi baru. Rencana saya ke depan, semua wadah ditanami brambang dulu, baru dilanjutkan cabai. Yang penting intinya senang menanam," ujarnya, menyampaikan.

Keberhasilan pertanian perkotaan ini tidak lepas dari dukungan penuh keluarga. Ibu Ami, istri Pak Daliman mengungkapkan, bahwa kegiatan ini dijalankan secara bergotong royong di rumah.

"Saya ikut senang dan membantu. Kalau Bapak lagi sibuk atau pulang malam, saya yang bertugas menyiram tanaman atau memberi makan ayam. Jadi kami saling berkolaborasi," katanya, menuturkan.

Ami memastikan bahwa peternakan ayam dan pertanian rumah tangganya sangat ramah lingkungan dan tidak mengganggu warga sekitar.

Daliman menambahkan, sistem alas sekam dan jamu yang diberikan kepada ayam sehingga kotoran tidak menimbulkan bau. Disamping itu, ayam ini juga menjadi upaya cepat untuk meminimalisir sampah sisa dapur yang sering sulit untuk diurai.

"Saya pernah pakai maggot, tapi memang hasilnya lebih cepat pakai ayam," ucapnya, melanjutkan.

Selain untuk konsumsi pribadi, komoditas hasil kebunnya tidak hanya Bawang Merah, tetapi juga Cabai, terong hingga tomat ceri yang melimpah, baik untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari. Tetapi kerap dipetik dan dijual ke Pasar Tani setiap hari Jumat sebagai tambahan pendapatan keluarga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....