Panen Lele Tembus 4 Ton, Bupati Endah Soroti Keberlanjutan KDMP Karangrejek
- 08 Agt 2026 21:16 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Gunungkidul— Budidaya ikan lele di Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Karangrejek, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, menunjukkan hasil positif. Dalam panen perdana dari program budidaya tersebut, produksi lele mencapai lebih dari 4,8 ton.
Panen sekaligus tebar benih ikan berlangsung Sabtu, 8 Agustus 2026 dan dihadiri Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus upaya mendorong pengembangan perikanan budidaya berbasis potensi desa.
Ketua KDMP Karangrejek, Sujarwanto mengatakan, program budidaya tersebut mulai berjalan pada Januari 2026. Saat itu, koperasi mendapatkan bantuan sebanyak 60.000 benih lele dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
“Hasil pemeliharaan selama satu siklus kemudian dipanen pada April 2026. Dari jumlah benih yang ditebar, produksi yang diperoleh mencapai 4.871,2 kilogram dengan nilai penjualan sekitar Rp83 juta,” katanya.
Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul, M. Johan Wijayanto. Menurutnya, hasil produksi KDMP Karangrejek menjadi salah satu capaian tertinggi dalam program bantuan serupa yang dilaksanakan pada 2025.
LProduksi tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan sejumlah daerah lain. Johan menyebut hasil di Gresik, misalnya, berada di kisaran 3,3 ton,” ujar Johan.
Meski demikian, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengingatkan agar keberhasilan produksi harus diikuti dengan pengelolaan usaha yang sehat. Menurutnya, koperasi perlu memastikan kegiatan budidaya tidak hanya menghasilkan panen besar, tetapi juga memberikan keuntungan yang berkelanjutan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah masih adanya kewajiban pembayaran utang untuk persiapan lahan sebesar Rp40 juta. Beban tersebut harus diperhitungkan dalam pengelolaan pendapatan dari hasil panen.
“Jangan sampai unit usaha ini tidak membawa keberuntungan, menjadi beban, kemudian meninggalkan aset yang mangkrak,” ujar Endah.
Ia mendorong KDMP melakukan berbagai inovasi untuk menekan biaya produksi, khususnya pengeluaran untuk pakan yang selama ini menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam budidaya lele.
Salah satu alternatif yang disampaikan yakni mengembangkan pakan secara mandiri dengan memanfaatkan limbah ikan dari kawasan pelabuhan, seperti Sadeng maupun Gesing.
Selain itu, Endah juga mendorong adanya integrasi antara sektor perikanan dan pertanian. Air bekas kolam lele dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman hortikultura sehingga satu kegiatan usaha dapat menghasilkan manfaat ekonomi tambahan.
“Integrasi pertanian bisa memanfaatkan air kolam lele sebagai pupuk organik untuk tanaman hortikultura sehingga memberikan nilai tambah ekonomi,” katanya.
Sementara itu, DKP Gunungkidul menyiapkan pengembangan budidaya ikan tematik di sejumlah wilayah. Pada 2026, pemerintah daerah berencana mengusulkan 23 lokasi budidaya dengan sistem “miniras”.
Sistem tersebut dinilai lebih efisien dalam penggunaan air dan ditargetkan mampu menghasilkan hingga 10 ton lele dalam satu siklus produksi. Setiap paket bantuan diperkirakan memiliki nilai sekitar Rp1,2 miliar. Anggaran tersebut mencakup pembangunan 20 kolam permanen beserta sarana pendukung kegiatan budidaya.
Pengembangan perikanan juga akan dilakukan melalui program Mina Padi. Rencananya, program tersebut diterapkan pada lahan seluas 10 hektare di Semugih pada triwulan IV 2026. Dalam kesempatan yang sama, Bupati Gunungkidul menyerahkan bantuan peralatan pengolahan hasil perikanan berupa chest freezer kepada empat Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklasar).
Keempat penerima bantuan tersebut yakni Poklasar Gesing Asri dari Panggang, Poklasar Mina Boga dari Baron, Poklasar Mina Lestari dari Drini, serta Poklasar Mina Lestari dari Sepanjang.
Melalui pengembangan budidaya dan pengolahan hasil perikanan tersebut, pemerintah berharap koperasi desa dan kelompok pembudidaya mampu mengelola bantuan secara lebih profesional. Dengan manajemen yang baik, sektor perikanan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan produksi, tetapi mampu menjadi sumber pendapatan dan penggerak ekonomi masyarakat desa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....