Implementasi Pembelajaran Coding Mulai Diterapkan di Gunungkidul
- 24 Jul 2026 19:17 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Gunungkidul - Implementasi pembelajaran coding mulai menjadi perhatian dunia pendidikan di Kabupaten Gunungkidul. Pendidikan coding ini sebagai upaya mempersiapkan peserta didik menghadapi perkembangan teknologi digital.
Salah satu sekolah yang telah menerapkan pembelajaran tersebut adalah SD Muhammadiyah Al Mujahidin Gunungkidul melalui kegiatan ekstrakurikuler sekaligus integrasi dalam sejumlah mata pelajaran.
Langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang mendorong pembelajaran coding dan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) di satuan pendidikan. Berdasarkan paparan implementasi pembelajaran, coding dapat diterapkan melalui mata pelajaran, kegiatan kokurikuler maupun ekstrakurikuler dengan tujuan mengembangkan kemampuan berpikir komputasional, pemecahan masalah, kreativitas, hingga kolaborasi peserta didik.
Kepala SD Muhammadiyah Al Mujahidin Gunungkidul, Joko Kiswanto mengatakan, pembelajaran coding bukan semata-mata mengajarkan anak menjadi programmer, melainkan membentuk pola pikir logis dan sistematis sejak usia sekolah dasar.
“Coding kami jadikan sebagai sarana melatih kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan pemecahan masalah. Anak-anak belajar menyusun langkah secara runtut, memahami sebab-akibat, sekaligus berani mencoba mencari solusi ketika menghadapi tantangan,” ujarnya, Jumat, 24 Juli 2026.
Ia menjelaskan, proses pembelajaran disesuaikan dengan usia peserta didik. Selain menggunakan komputer dan perangkat digital, sekolah juga menerapkan unplugged coding, yakni pembelajaran tanpa perangkat elektronik melalui permainan, board game, lembar kerja, hingga aktivitas berbasis cerita.
“Anak-anak tidak langsung dihadapkan pada bahasa pemrograman yang rumit. Mereka diajak memahami konsep algoritma melalui permainan yang menyenangkan. Setelah konsep dasarnya kuat, baru dikenalkan pada media digital berbasis blok sehingga lebih mudah dipahami,” katanya.
Menurutnya, metode pembelajaran yang digunakan memadukan pendekatan bercerita, tanya jawab, demonstrasi, dan bermain. Pendekatan tersebut membuat siswa lebih aktif sekaligus mengurangi anggapan bahwa coding merupakan pelajaran yang sulit.
Meski demikian, implementasi pembelajaran coding di sekolah dasar masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kesiapan sumber daya manusia, ketersediaan perangkat pendukung, hingga peningkatan kompetensi guru agar mampu mengikuti perkembangan teknologi yang sangat cepat.
“Tantangan terbesar bukan hanya menyediakan perangkat, tetapi memastikan guru terus belajar dan mampu mengembangkan pembelajaran yang menarik. Teknologi berubah sangat cepat sehingga sekolah juga harus terus beradaptasi,” kata Joko.
Selain itu, ia menilai masih diperlukan pemahaman dari orang tua bahwa coding bukan sekadar belajar menggunakan komputer, melainkan bagian dari penguatan keterampilan abad ke-21 yang akan dibutuhkan anak pada masa depan.
“Kami berharap orang tua mendukung karena manfaat coding tidak hanya dirasakan oleh anak yang nantinya bekerja di bidang teknologi. Kemampuan berpikir logis, menyelesaikan masalah, bekerja sama, dan berinovasi merupakan bekal yang dibutuhkan di berbagai profesi,” ucap dia.
Melalui implementasi tersebut, SD Muhammadiyah Al Mujahidin Gunungkidul berharap mampu mencetak generasi yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan menciptakan solusi melalui pemanfaatan teknologi secara kreatif, produktif, dan bertanggung jawab.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....