Generasi Muda, Yuk Sopan di Ruang Publik

  • 27 Mar 2026 11:44 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Media sosial dan ruang publik di era digital sering kali dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat, di mana platform ini kerap dianggap sekadar sebagai wadah kebebasan berekspresi yang dipenuhi oleh ujaran kasar, minim etika, serta memicu konflik yang meresahkan. Namun, Persatuan Periset Indonesia (PPI) Wilayah Yogyakarta hadir untuk mematahkan fenomena tersebut dengan mendorong ruang publik baik digital maupun nyata agar bertransformasi menjadi ruang interaksi yang santun, edukatif, dan mampu menjaga harga diri berbagai kalangan, terutama generasi muda.

Dalam bincang-bincang interaktif di acara "Kawruh" RRI Pro 4 Yogyakarta, Jumat, 27 Maret 2026, Peneliti Ahli Madya PPI Wilayah Yogyakarta, Dr. Joni Endardi, S.S., M.Hum., mengungkapkan bahwa empati dan penguasaan olah rasa adalah kunci utama etika komunikasi. Menurutnya, indikator keberhasilan bertutur di era modern tidak hanya dilihat dari seberapa vokal seseorang menyampaikan pendapat, melainkan bagaimana pesan tersebut diutarakan melalui pendekatan face-saving atau tanpa menegatifkan muka lawan bicara.

"Bahasa santun itu tidak hanya sekadar alat komunikasi biasa atau sebatas formalitas yang kaku, tetapi wujud nyata untuk menghargai lawan tutur secara utuh. Oleh karena itu, sebelum sebuah kalimat diucapkan, ia harus diolah, ditimbang antara otak kanan dan otak kiri, serta disesuaikan dengan konteks siapa pendengarnya," ujar Joni.

Sebagai wujud kepedulian terhadap literasi bahasa, PPI Wilayah Yogyakarta menyoroti fenomena menurunnya kesantunan bertutur yang kerap dipertontonkan oleh para tokoh publik. Masyarakat diajak mengkaji dampak efek imitasi dari ucapan sarkas figur publik, yang dengan mudah ditiru oleh generasi muda karena dianggap sebagai hal yang lumrah. Padahal, Indonesia yang ditopang oleh 718 bahasa daerah dan masyarakat yang majemuk sangat rentan terhadap konflik asimetris yang dipicu oleh pilihan kata yang provokatif.

Sebagai langkah nyata untuk memperbaiki kondisi tersebut, edukasi kesantunan di Yogyakarta juga semakin diperkuat dengan pendekatan kultural kepada mahasiswa dan pelajar. Dr. Joni menceritakan bahwa pendekatan kepada generasi milenial dan Gen Z tidak bisa lagi menggunakan cara-cara dogmatis. Tenaga pendidik harus mampu melebur dan menjadi sahabat bagi generasi muda, mengingatkan mereka secara halus ketika menggunakan istilah slang yang berkonotasi negatif agar mereka lebih peduli pada etika berkomunikasi tanpa merasa digurui.

"Alhamdulillah, jika kita masuk ke dunia mereka, anak-anak muda ini benar-benar bisa menghargai dan menyadari pentingnya tata krama. Ke depan, untuk lebih meningkatkan kesantunan bertutur, kami rasa perlu didorong adanya konsultan bahasa tutur bagi para pejabat atau tokoh publik, agar penyampaian informasi publik lebih bijaksana dan sejalan dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kebahasaan," kata Joni

Dalam sesi tanya jawab dengan pendengar, Joni menekankan bahwa dukungan menjaga kesantunan harus diwujudkan melalui pengendalian emosi di masyarakat. Beliau menyoroti keluhan pendengar terkait maraknya serangan buzzer bersuara kasar di media sosial yang sering memicu perdebatan panas. Untuk menghadapinya, masyarakat diimbau semakin bijak dan mempraktikkan filosofi Jawa nglelewa yakni mengalihkan pembicaraan atau diam daripada membalas dengan emosi yang berujung pada face-threatening act (tindakan saling mengancam harga diri).

Tak hanya itu, menjawab pertanyaan pendengar mengenai tradisi unggah-ungguh di masyarakat Jawa, ditekankan pula bahwa penggunaan diksi pragmatik penghalus seperti "mohon" dan "diharapkan" tetap menjadi standar baku dalam menghormati sosok yang lebih tua maupun di acara-acara seremonial kemasyarakatan. Hal ini membuktikan bahwa nilai kesantunan tradisional masih sangat relevan diterapkan di tengah arus modernisasi.

Keberlanjutan etika berbahasa di negeri ini tentunya tidak lepas dari kolaborasi kuat antar tenaga pendidik, tokoh publik, dan kesadaran masyarakat luas. Dengan komitmen bersama untuk menjalankan prinsip Tri Gatra Bangun Bahasa utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing. PPI Wilayah Yogyakarta berharap ekosistem komunikasi di Indonesia dapat terus berkembang menjadi ruang publik yang beradab, inspiratif, dan mencerminkan citra kualitas bangsa yang sesungguhnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....