Lahan Sempit Disulap KTNA Kota Yogyakarta Menjadi Ladang Rezeki
- 29 Jan 2026 15:20 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Petani Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukanlah hambatan untuk tetap produktif. Dalam diskusi Siaran Obrolan Astacita Mbangundesa "Dari Sampah Jadi Pupuk, dari Lahan Sempit Jadi Rezeki" di Taman Rekreasi Winongo Badran, Kamis 29 Januari 2026, mereka berbagi pengalaman mengolah sampah menjadi pupuk organik dan memanfaatkan lahan sempit sebagai sumber rezeki.
Tiga narasumber, yakni Fani selaku Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Yogyakarta, Heri sebagai petani lahan sempit, serta Anita Windrati Syarifuddin, Kepala UPTD Balai Pengembangan Sumber Daya DIY. Ketiganya menyoroti solusi pertanian perkotaan melalui inovasi pupuk organik dan kolaborasi masyarakat.
Ketua KTNA Kota Yogyakarta, Pak Fani, menekankan pentingnya edukasi dan aksi nyata dari hati ke hati. Ia menyebut hampir 90 persen petani di Yogyakarta telah beralih ke sistem organik. “Produksi pupuk cair yang dibuat KTNA kota lebih dari 30 macam. Petani bisa membuat pupuk organik sendiri sehingga biaya bisa ditekan,” ujarnya.
Sementara itu, Pak Heri berbagi pengalaman sebagai petani lahan sempit. Ia memanfaatkan teras dan lorong rumah untuk menanam, serta mengolah sampah menjadi pupuk padat maupun cair dengan wadah sederhana seperti galon dan ember. “Prosesnya alami, hanya sekitar satu bulan sudah bisa jadi pupuk siap pakai. Kami bahkan bekerja sama dengan hotel untuk mengolah limbah buah, hasilnya melimpah,” kata Heri.
Kepala UPTD Balai Pengembangan Sumber Daya DIY, Anita Windrati Syarifuddin, S.P., M.M.A, menegaskan komitmen pemerintah untuk memfasilitasi petani yang memiliki potensi. “Apa yang kita tanam itu yang kita makan, apa yang kita makan itu yang kita tanam. Petani yang punya keunggulan akan kami dorong jadi instruktur agar bisa menularkan pengetahuan,” jelasnya. Ia juga berencana membuat kalender event pertanian, termasuk wisata edukasi, agar masyarakat semakin dekat dengan dunia pertanian organik.
Diskusi ditutup dengan harapan agar kolaborasi antara petani, masyarakat, dan pemerintah terus berlanjut. Pak Fani berharap masyarakat semakin sadar menanam dan mengolah sampah organik. Pak Heri menekankan pentingnya inovasi teknologi agar petani milenial bisa bersinergi. Bu Anita menegaskan dukungan bagi petani penyuluh swadaya dan petani milenial DIY agar menjadi smart farmer yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Acara ini menjadi bukti bahwa keterbatasan lahan bukanlah hambatan. Dengan inovasi, gotong royong, dan dukungan pemerintah, pertanian kota Yogyakarta mampu menghadirkan solusi berkelanjutan: dari sampah jadi pupuk, dari tanah jadi rezeki.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....