Ken Tri Basuki Ubah Limbah Plastik Jadi Pusat Agribisnis

  • 26 Mar 2026 09:37 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Modernisasi pertanian dan menyempitnya lahan sering kali membuat masyarakat mulai mencari inovasi yang lebih adaptif terhadap keterbatasan area perkotaan. Di Dusun Sumbergamol, Gamping, Sleman, sebuah terobosan ekstrem muncul melalui pemanfaatan limbah 2.000 galon air mineral bekas sebagai media tanam padi organik hingga berbagai ta naman buah produktif yang terbukti tangguh dan efisien.

Inovasi ini diinisiasi oleh Laksda TNI (Purn.) B. Ken Tri Basuki, yang membangun kawasan "Rumah Petani" di atas lahan kas desa yang disewa sebagai sarana edukasi warga. Lahan percontohan ini dibangun secara unik di atas kolam ikan gurame dan nila, menyulap limbah menjadi pusat agribisnis mandiri.

Ken Tri Basuki menjelaskan bahwa ide ini berangkat dari keprihatinannya melihat petani yang sering kesulitan biaya operasional, terutama untuk pengolahan lahan konvensional yang membutuhkan traktor atau alat berat. Dengan sistem galon, hambatan biaya tersebut dapat ditekan secara signifikan.

"Keuntungan sistem ini sangat banyak. Petani tidak perlu pusing memikirkan lahan yang luas atau memikirkan traktor. Hebatnya lagi, selama masa tanam, metode ini terbukti aman dari serangan hama tikus karena tikus enggan naik ke permukaan galon yang dicat hitam," ujarnya.

Selain padi varietas JUL 14 (Jenis Uji Lapangan 14) yang sukses dipanen pada usia 100 hari, Ken Tri Basuki juga mengembangkan berbagai tanaman buah unggulan di kawasan tersebut. Beberapa di antaranya adalah pohon Sapote, Kelengkeng, hingga Alpukat Aligator yang buah pertamanya sempat mencapai berat hampir satu kilogram. Terdapat pula tanaman Kakao sebanyak 350 bibit, pohon durian, dan manga, kelengkeng dan lainnya yang semuanya dirawat menggunakan pupuk organik dari kotoran hewan ternak warga sekitar.

Keberhasilan teknis di lapangan merupakan hasil dedikasi dari Ratri Sulistyo, atau yang akrab disapa Setro, selaku pengelola tanaman (petani). Ia adalah sosok yang terjun langsung menyiapkan media hingga merawat ribuan galon tanaman tersebut dari awal hingga masa panen tiba.

Setro memaparkan bahwa media tanam yang digunakan merupakan campuran tanah, kotoran hewan (kambing atau sapi), dan arang sekam. Sebelum ditanami bibit, media tersebut diaduk dan direndam selama satu hingga dua minggu hingga menjadi lumpur. Galon-galon tersebut juga dicat hitam di bagian luar untuk mencegah tumbuhnya lumut dan jamur akibat paparan sinar matahari.

Seluruh proses perawatan dilakukan secara organik tanpa bahan kimia, di bawah bimbingan langsung Prof. Harry Abdussalam dari komunitas Bengkel Bumi. "Untuk pengairan juga sangat efisien, air disiramkan dengan mengambil air langsung dari kolam ikan di bawah rak tanaman menggunakan ember atau gayung. Kami menjaga agar air menggenang sekitar dua ruas jari atau lima sampai tujuh sentimeter, dan menjelang masa panen air dikurangi agar tanah mengering," katanya.

Kawasan "Rumah Petani" ini menyediakan delapan hingga sembilan rumah peraga yang memperlihatkan proses detail penanaman, peternakan ikan, hingga perawatan pohon buah. Sinergi antara visi Ken Tri Basuki dan ketelatenan Setro (petani) ini membuktikan bahwa inovasi sederhana di lahan sempit mampu menjadi solusi ketahanan pangan dan ekonomi masa depan bagi masyarakat luas.

“Yang jelas para petani, atau calon petani yang akan memanfaatkan lahannya walaupun sempit untuk ketahanan pangan bias belajar disini di Rumah Petani, yang memang sudah terifntegrasi dari pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan”, ujar Ken.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....