Lahan Terbengkalai Disulap Menjadi Wisata Edukasi Pertanian

  • 31 Mei 2026 13:27 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Masyarakat Kaliurang Barat, Yogyakarta, berhasil mengubah lahan terbengkalai menjadi kawasan produktif berbasis lingkungan dan ketahanan pangan. Program ini dipelopori oleh Takmir Masjid Al Munawwarah bersama aktivis lokal, Nasirin, yang aktif mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pertanian dan pengelolaan lingkungan.

Sebelum dikelola warga, lahan berstatus Sultan Ground tersebut dipenuhi semak belukar dan sering digunakan sebagai tempat pembuangan sampah liar. Kondisi ini mendorong jamaah Masjid Al Munawwarah untuk mengambil inisiatif menjadikan area tersebut lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Takmir masjid kemudian berkoordinasi dengan pemerintah dusun dan mendapatkan dukungan penuh dari almarhum Dukuh Kecuk, Sumadi. Setelah memperoleh izin resmi, warga bergotong royong membersihkan dan menata lahan menjadi kebun produktif yang dikelola bersama.

Keunikan program ini terletak pada sistem pengelolaannya yang dilakukan secara mandiri tanpa menggunakan dana kas maupun infak masjid. Untuk mendukung pengembangan kawasan, warga menerapkan sistem investasi sukarela.

Melalui skema tersebut, setiap investor berhak memperoleh pengembalian modal secara penuh ketika kebun mulai menghasilkan keuntungan. Sistem ini menjadi bentuk transparansi sekaligus partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan lingkungan.

Pada tahun 2018, kawasan ini berkembang menjadi taman bunga yang dikenal dengan nama Al Muna Garden. Keindahan taman tersebut berhasil menarik wisatawan lokal dan menjadi salah satu daya tarik baru di kawasan Kaliurang Barat.

Remaja Islam Masjid Al Munawwarah turut berperan aktif dalam pengelolaan taman bunga. Kehadiran Al Muna Garden juga membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat sekitar melalui sektor pariwisata dan usaha mikro.

Ketika pandemi Covid-19 melanda, sektor pariwisata di Kaliurang mengalami penurunan drastis akibat pembatasan mobilitas masyarakat. Untuk menjaga keberlanjutan program, pengurus takmir memutuskan mengubah taman bunga menjadi kebun sayur produktif.

Berbagai komoditas ditanam, mulai dari cabai hingga terong jumbo berkualitas. Langkah ini dilakukan agar lahan tetap memberikan manfaat ekonomi dan mendukung ketahanan pangan masyarakat.

“Kami ingin lahan ini tetap bermanfaat meskipun pariwisata sedang turun akibat pandemi,” ujar Nasirin, salah satu pengelola kawasan.

Pasca pandemi pada tahun 2021, kawasan Al Muna Garden kembali berkembang dan bertransformasi menjadi wisata edukasi pertanian. Berbagai mahasiswa dari perguruan tinggi di Yogyakarta datang untuk belajar tentang pengelolaan lahan, pertanian berkelanjutan, serta pemberdayaan masyarakat.

Menurut Nasirin, keberhasilan kawasan ini tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan kerja keras, kesabaran, dan kolaborasi warga.

“Kami mengajarkan mahasiswa bahwa hasil besar membutuhkan proses panjang, kesabaran, doa, serta kerja keras bersama,” ujarnya.

Saat ini, kawasan Masjid Al Munawwarah dan Al Muna Garden telah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, antara lain:

Gazebo

Camping ground

Area outbound

Kebun edukasi pertanian

Ruang kegiatan masyarakat.

Pengembangan fasilitas tersebut turut mendapat dukungan dari program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Keberhasilan Al Muna Garden membuktikan bahwa lahan kosong dapat diubah menjadi aset produktif melalui semangat gotong royong dan partisipasi masyarakat.

Dari kawasan yang semula terbengkalai, kini Al Muna Garden menjadi contoh sukses wisata edukasi pertanian, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat di Yogyakarta. (Gilang KR)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....