Uniknya Wisata Religi Makam Mbah Agung Karang Banar

  • 28 Apr 2024 09:26 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas : Desa Kalisalak merupakan salah satu desa wisata yang terkenal akan budaya dan keindahan alamnya yang unik. Desa ini berada di Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas. Desa Kalisalak pernah mendapatkan predikat sebagai desa adat pada tahun 2011 dan desa wisata pada 2020. Salah satu wisata religi yang wajib masuk ke dalam list ketika berkunjung ke Desa Kalisalak yaitu Makam Mbah Agung Karang Banar.

Mbah Agung Karang Banar tersebut merupakan salah satu tokoh Islam yang dihormati dan disegani oleh masyarakat Desa Kalisalak. Hal yang membuat unik dari makam tersebut yaitu terdapat banyak monyet, baik di pelataran maupun di area dalam makam sehingga membuatnya tampak seperti penjaga makam.

Jangan heran, jika Anda berkunjung ke sana melihat banyaknya kulit kacang yang berserakan. Hal tersebut wajar karena banyak para pengunjung yang memberikan makan para monyet sehingga dapat dijadikan pengalaman menyenangkan apalagi bagi orang yang pertama kali berinteraksi dengan monyet.

Jika saat di area luar sudah disambut banyaknya monyet, maka saat Anda memasuki ke dalam area makam akan disambut dengan semilirnya angin yang berhembus dan banyaknya pohon yang rimbun. Itulah salah satu faktor yang membuat suasana menjadi sejuk. Setelah masuk ke bagian yang lebih dalam, Anda akan melihat bangunan pendopo yang di dalamnya terdapat makam Mbah Agung Karang Banar. Letak makam tersebut berada di dalam ruangan yang ada di pendopo tersebut.

Makam Mbah Agung Karang Banar tidak buka setiap hari untuk umum, jadi hanya di waktu tertentu. Anda dapat membuat janji dengan juru kunci terlebih dahulu agar bisa mendapatkan aksesnya.

Waktu kunjungan yang paling banyak di bulan Rabiul Awal atau lebih dikenal dengan bulan Maulid dan bulan Muharam. Bapak Mihadi selaku juru kunci sekaligus mantan Kepala Dusun menjelaskan bahwa kebanyakan pengunjung yang datang berasal dari luar kota.

“Pengunjung yang datang ke Makam Mbah Agung Karang Banar bukan hanya dari warga setempat, tapi banyak juga dari luar kota seperti Semarang, Magelang, bahkan dari Jakarta pun ada.” Ujar Pak Mihadi.

Ada yang datang untuk rutinan tahlilan yang dilakukan setiap hari Jumat oleh ibu-ibu warga setempat. Ada pula yang hanya sekedar ziarah. Namun, untuk ziarah tersebut ternyata memiliki tujuan yang berbeda-beda pula, diantaranya menolak bala atau bencana, meminta kelancaran usaha yang sedang dilakukan, meminta kelancaran agar diterima kerja, dan lainnya. (vera)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....