Kapiten Jongker, Sejarah Tersembunyi di Pesisir Marunda
- 31 Mar 2024 20:22 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Cilincing tidak hanya memiliki wisata sejarah religi, namun juga menyimpan sejarah salah satu tokoh yang menjadi pergerakan di Batavia. Kapiten Jongker, pejuang asal Maluku ini tidak banyak yang tahu, ternyata dimakamkan di tanah pesisir Marunda Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.
Dari Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Marunda, reporter RRI Jakarta melakukan napak tilas jejak bersejarah di tanah Marunda.
Tidak mudah menulis figur Kapitan Jonker yang hidup pada abad 17 atau sekitar empat abad silam. Jejak kebesarannya kini hampir sirna. Betapa tidak, lokasi yang awalnya bernama kampung Pejongkoran kini telah dilupakan, berganti satu kawasan yang depenuhi oleh tumpukan pasir dan batu bara, Kawasan Berikat Nusantara namanya, atau orang biasa menyebutnya KBN Marunda.
Sejarah mencatat, Kapitan Jonker lahir di Pulau Manipa, Seram Bagian Barat, Maluku, namun tidak ada yang tahu persis tanggal kelahirannya. Ayahnya, Sangaji Kawasa, merupakan orang terkemuka di Negeri Tumalehu, Pulau Manipa. Kapitan Jonker terlahir dan meninggal sebagai Muslim, yang di makamkan pada tahun 1689, memiliki dua orang anak, Pattij Lima Simar dan Seicon atau Sjakon.
Ketika reporter RRI mengitari petilasan makam Kapiten Jongker, tempat ini tidak seperti pada maqom-maqom bersejarah lainnya yang ada di Ibu Kota, kondisi maqom ini terlihat tidak terurus, dan menjadi tempat singgah ojek pengkolan, terkadang menjadi tempat peristirahatan pekerja yang berada di dekat kawasan tersebut.
Didominasi dengan warna merah, tersembunyi diantara pabrik dan pangkalan truk kontainer, lokasi ini hampir tidak ada pemukiman masyarakat yang berdomisili di tempat tersebut meskipun dahulu lokasi ini merupakan perkampungan Pejongkoran.
Hanya papan yang tertulis Dinas Sejarah dan Kepurbakalaan, situs makam kapitan Jonker dapat dikenali, yang di bangun pada tahun 1970. Saat ini pengelolaannya berada dibawah suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta, karena merupakan bagian sejarah yang tidak lepas dari perkembangan Batavia.
Memasuki area makam dengan pintu merah, menggambarkan sosok keberanian Sang Kapiten yang sohor karena ia dan pasukannya selalu pulang membawa kemenangan untuk VOC di banyak pertempuran, misalnya di Timor, Srilangka, Padang, Jambi, Palembang, Banten, Makassar, dan Jawa Timur.
Pada penggalan akhir kehidupan, beliau adalah pahlawan yang menggerakkan perlawanan rakyat Jakarta Utara, rakyat Tanjung Priok rakyat Marunda terhadap Belanda. Sampai akhir tahun 1960-an, wilayah tersebut masih dikenal masyarakat dengan sebutan Pejongkoran.
Jauh setelah kematiannya, Jonker menjadi mitos yang begitu dihormati serdadu-serdadu KNIL Ambon. Banyak dari mereka yang percaya satu mitos: jika pasukan yang sedang di perjalanan menuju pertempuran dilintasi sepasang merpati, maka pasukan tersebut akan menang. Mereka percaya sepasang merpati itu adalah jelmaan Tete dan Nene Jonker.
Kini, tanah Pejongkoran hanya menyisakan petilasan dan makam Kapiten Jonker, untuk mengenang jasanya petilasan ini kerap diziarahi orang-orang. Menurut penuturan penduduk yang tinggal di sekitar sana, banyak orang—terutama orang Ambon—datang berziarah dengan harapan akan mendapat kekuatan terutama di bulan Ramadhan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....