Wisman Bertambah, DPR Tekankan Penguatan Nilai Ekonomi Pariwisata Nasional
- 05 Agt 2026 11:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BPS mencatat 1,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sepanjang Juni 2026.
- Rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara turun menjadi USD1.285 dalam setiap kunjungan.
- Putra mendorong peningkatan layanan, diversifikasi kegiatan, dan promosi kepada wisatawan berdaya beli tinggi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pusat Statistik mencatat 1,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sepanjang Juni 2026. Jumlah tersebut naik tipis secara bulanan, tetapi turun 2,15 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Di balik capaian itu, rata-rata pengeluaran wisatawan justru menurun menjadi USD1.285 dalam setiap kunjungan. Data tersebut kemudian mendapat perhatian Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan.
“Kita mengapresiasi capaian kunjungan wisman semester pertama 2026 yang menunjukkan Indonesia tetap diminati. Namun, penurunan belanja wisatawan harus menjadi perhatian serius dalam memperkuat manfaat ekonomi pariwisata,” ujar Putra.
Putra menyampaikan pandangannya tersebut di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026. Politisi PDI Perjuangan itu meminta pemerintah tidak hanya berfokus pada pertumbuhan jumlah wisatawan.
Menurutnya, pengelolaan pariwisata juga harus memastikan setiap kunjungan menghasilkan nilai ekonomi lebih besar. Manfaat tersebut terutama harus dirasakan masyarakat dan pelaku usaha sekitar kawasan wisata.
Putra menempatkan penurunan kunjungan sebesar 2,15 persen secara tahunan sebagai catatan pertama. Catatan berikutnya adalah merosotnya rata-rata pengeluaran wisatawan menjadi USD1.285 per kunjungan.
“Data ini harus menjadi lampu kuning bagi pengelolaan pariwisata nasional kita. Peningkatan kunjungan belum sepenuhnya diikuti pertumbuhan nilai ekonomi riil,” tegasnya.
Putra menilai banyaknya wisatawan belum otomatis memberikan dampak ekonomi maksimal bagi daerah. Terlebih, pengeluaran rendah membatasi pendapatan masyarakat dan pelaku usaha mikro sekitar destinasi.
Karena itu, ia mendorong pergeseran dari pariwisata massal menuju pariwisata berkualitas. Pendekatan tersebut menempatkan lama tinggal, nilai belanja, pengalaman wisatawan, dan keberlanjutan sebagai ukuran utama.
Langkah pertama adalah meningkatkan kualitas destinasi, amenitas, infrastruktur, dan kebersihan kawasan wisata secara menyeluruh. Perbaikan tersebut diperlukan agar wisatawan memperoleh pengalaman lebih baik dan terdorong meningkatkan pengeluaran.
Selanjutnya, pemerintah perlu memperbanyak acara internasional dan paket wisata tematik pada berbagai destinasi. Ekowisata, wisata kebugaran, dan wisata budaya dinilai mampu memperpanjang masa tinggal wisatawan.
Rekomendasi ketiga menyasar promosi lebih terarah kepada negara penyumbang wisatawan berdaya beli tinggi. Strategi tersebut harus menghubungkan wisatawan dengan produk usaha mikro, kecil, dan menengah lokal.
Dengan integrasi tersebut, pengeluaran wisatawan diharapkan berputar lebih luas dalam perekonomian daerah. Masyarakat sekitar destinasi juga memperoleh peluang tambahan melalui produk, layanan, dan lapangan pekerjaan.
“Indonesia tidak boleh hanya dikenal sebagai destinasi massal berbiaya murah. Pariwisata harus naik kelas sambil tetap menjaga kelestarian destinasi,” katanya.
Melalui langkah tersebut, pertumbuhan kunjungan diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan manfaat ekonomi. Penguatan kualitas juga dinilai penting agar pariwisata memberikan keuntungan lebih merata bagi masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....