Daya Tarik Relief Sri Tanjung di Wisata Candi Surowono Kediri
- 17 Mei 2026 20:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Relief Sri Tanjung menjadi daya tarik utama di kawasan wisata Candi Surowono Kediri.
- Pihak pengelola memastikan akan memfasilitasi pengunjung yang membutuhkan informasi tentang sejarah Candi Surowono.
RRI.CO.ID, Jakarta – Candi Surowono yang terletak di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang sangat menarik untuk dikunjungi. Situs purbakala peninggalan leluhur ini menawarkan pesona keunikan berupa relief dindingnya yang menarik.
Utamanya adalah keberadaan Relief Sri Tanjung. Relief tersebut mengisahkan sebuah legenda kuno mengenai kesetiaan mendalam seorang istri kepada suaminya. Kisah inilah yang kemudian turut melatarbelakangi asal-usul dari penamaan daerah Banyuwangi di Jawa Timur.
Menariknya, kisah legenda pada relief tersebut masih memiliki hubungan erat dengan pola kehidupan masyarakat sekitar hingga saat ini. Nur Ali mengatakan, di sekitar candi ini, terbukti warga setempat sangat gemar membudidayakan ikan hias.
"Hal itu ternyata berkaitan dengan kisah Sri Tanjung. Tokohnya memang digambarkan menaiki seekor ikan," ujar Pengelola Candi Surowono Nur Ali, dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Minggu, 17 Mei 2026.
Secara fisik, kawasan Candi Surowono tergolong tidak terlalu luas karena areanya berdiri di bawah lahan seluas satu hektare. Letaknya yang berdekatan dengan pemukiman penduduk, pembangunan fasilitas pendukung wisata menjadi terbatas.
Meski areanya terbatas, pihak pengelola memiliki strategi khusus agar nilai sejarah tetap tersampaikan dan dipahami wisatawan. Pengelola berkomitmen untuk selalu mendampingi setiap pengunjung yang datang dan menyaring tujuan kedatangan mereka.
"Kami selalu mendampingi pengunjung. Kalau tujuan mereka ke sini memang untuk belajar sejarah, kami akan memberikan informasi sebaik mungkin," katanya.
Edukasi sejarah ini sangat diutamakan bagi generasi muda, khususnya kelompok anak sekolah yang berkunjung. Sebagian besar pelajar biasanya datang ke candi ini untuk menyelesaikan tugas kelompok maupun individu dari sekolah mereka.
"Kami berusaha menjelaskan dengan baik dan benar. Sehingga anak-anak tahu bahwa peninggalan leluhur itu sangat penting untuk dipelajari," tuturnya.
Di sisi lain, perawatan fisik situs purbakala ini juga rutin dilakukan demi menjaga keaslian dan kelestarian dinding candi. Petugas kebersihan harus berkala membersihkan jenis tanaman pengganggu seperti lumut agar tidak mengikis batuan relief.
Untuk menikmati wisata edukasi bersejarah ini, para pengunjung sama sekali tidak dipungut biaya. Pengunjung cukup masuk dan hanya diminta untuk mengisi buku tamu untuk pendataan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....