Macet di Bali, 'Water Taxi' Jadi Solusi, Pahami Konsepnya
- 11 Apr 2026 13:37 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Moda ini dirancang menghubungkan berbagai titik strategis tanpa bergantung pada jalur darat yang sering mengalami kemacetan panjang
- Pengembangan water taxi ditargetkan dimulai pada tahun 2026 dan berlangsung hingga 2027 melalui beberapa tahapan pelaksanaan proyek
- Di sejumlah negara lain layanan water taxi bahkan berkembang menjadi daya tarik wisata ikonik yang memiliki ciri khas tersendiri
RRI.CO.ID, Jakarta - Kemacetan di Bali semakin meningkat seiring pertumbuhan wisatawan dan aktivitas ekonomi di kawasan pariwisata utama setiap harinya. Kondisi ini mendorong kebutuhan inovasi transportasi yang efisien terintegrasi serta mampu mengurangi beban lalu lintas di daratan secara signifikan.
Salah satu konsep yang dikembangkan pemerintah adalah water taxi sebagai alternatif transportasi berbasis perairan yang fleksibel dan efisien. Moda ini dirancang menghubungkan berbagai titik strategis tanpa bergantung pada jalur darat yang sering mengalami kemacetan panjang.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan, pengembangan water taxi menjadi strategi memperkuat konektivitas transportasi terintegrasi di Bali. “Water taxi merupakan solusi alternatif mengintegrasikan transportasi darat laut dan udara guna mengurangi kepadatan lalu lintas kawasan wisata,” ujarnya, dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 8 April 2026, lalu.
Secara konsep water taxi merupakan layanan transportasi laut jarak pendek yang berfungsi seperti taksi pada jaringan transportasi darat. Wisatawan dapat berpindah antar lokasi lebih cepat melalui jalur perairan yang relatif bebas hambatan dibandingkan jalur darat padat.
Di Bali pengembangan water taxi direncanakan menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan wisata seperti Canggu secara efisien. Rute tersebut dikenal padat karena waktu tempuh jalur darat dapat mencapai satu hingga dua jam saat kondisi lalu lintas sibuk.
Dengan penggunaan water taxi waktu perjalanan diperkirakan dapat dipangkas menjadi sekitar tiga puluh menit sehingga lebih efisien bagi wisatawan. “Waktu tempuh dari Bandara Ngurah Rai menuju Canggu dapat mencapai satu hingga dua jam sedangkan water taxi maksimal tiga puluh menit,” katanya.
Selain efisiensi waktu moda ini juga dinilai lebih ramah lingkungan karena mampu mengurangi kepadatan kendaraan di jalan raya. Pengurangan beban lalu lintas darat diharapkan berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan serta kenyamanan wisatawan selama berkunjung ke Bali.
Namun, lanjut Dudy, implementasi water taxi memerlukan pembangunan pelabuhan dengan penahan gelombang atau breakwater di beberapa titik strategis. “Pembangunan fasilitas penahan gelombang diperlukan untuk menjamin keselamatan operasional pada perairan dengan kondisi yang cukup dinamis,” ucapnya..
Karena itu, pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi awal proyek water taxi mencapai sekitar Rp1,21 triliun untuk mendukung pengembangan infrastruktur secara menyeluruh. Proyek ini direncanakan melibatkan PT ASDP Indonesia Ferry sebagai operator dalam pengelolaan layanan transportasi berbasis perairan tersebut.
Pengembangan water taxi ditargetkan dimulai pada tahun 2026 dan berlangsung hingga 2027 melalui beberapa tahapan pelaksanaan proyek. Tahapan tersebut mencakup studi perencanaan pembangunan infrastruktur hingga uji coba operasional sebelum layanan digunakan secara luas masyarakat.
Strategi Infrastruktur Provinsi Bali
Sebagai bagian upaya mengatasi kemacetan, Pemerintah Provinsi Bali menyiapkan proyek infrastruktur strategis guna memperkuat konektivitas antarwilayah. Langkah ini menjadi pelengkap inovasi transportasi yang didorong pemerintah untuk mendukung kelancaran mobilitas di kawasan pariwisata utama.
Gubernur Wayan Koster menyampaikan proyek tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan ditargetkan mulai direalisasikan pada 2026. Program ini mencakup pembangunan jalan fasilitas parkir serta jembatan penghubung antarwilayah strategis di Bali secara bertahap.
Selain pembangunan shortcut Singaraja–Mengwitani, pemerintah mengusulkan pembangunan Jalan Underpass Jimbaran sebagai solusi kemacetan di Bali Selatan. Proyek tersebut telah disetujui dengan estimasi anggaran sekitar Rp350 miliar untuk mendukung kelancaran lalu lintas di kawasan padat.
“Perencanaan Detail Engineering Design (DED) dan Feasibility Study (FS) saat ini sedang dikerjakan oleh Pemerintah Kabupaten Badung dan ditargetkan rampung paling lambat akhir Februari,” ujar Koster, dikutip dalam laman RRI.CO.ID Singaraja, dalam judul 'Atasi Kemacetan, Koster Paparkan Proyek Infrastruktur di Bali'
Setelah perencanaan selesai proses persiapan tender ditargetkan dimulai pada awal April oleh pemerintah terkait. Pelaksanaan tender utama ditargetkan berlangsung pertengahan 2026 atau paling lambat antara Agustus hingga September sesuai rencana.
Selain itu pemerintah juga mendapat dukungan pembangunan gedung parkir kendaraan di kawasan Pura Batur Bangli dari pusat. Anggaran sebesar Rp250 miliar dialokasikan melalui Direktorat Cipta Karya untuk mendukung fasilitas penunjang kawasan wisata tersebut.
Pemerintah Provinsi Bali turut menyiapkan pembangunan jalan penghubung serta perencanaan teknis pendukung proyek gedung parkir tersebut.
Langkah ini diharapkan mampu mengurangi kepadatan kendaraan di kawasan wisata yang ramai pengunjung sepanjang tahun.
Koster juga menyampaikan rencana pembangunan jembatan penghubung Nusa Lembongan–Nusa Ceningan untuk mengatasi kemacetan kawasan wisata. Proyek ini bertujuan meningkatkan aksesibilitas menuju Nusa Penida yang berkembang sebagai destinasi unggulan.
Proyek jembatan tersebut memiliki nilai anggaran sekitar Rp108 miliar dengan target penyelesaian dokumen persyaratan pada 2026. Pemerintah menargetkan seluruh dokumen pendukung rampung agar pembangunan dapat segera direalisasikan sesuai rencana yang telah ditetapkan.
“Cukup banyak infrastruktur strategis yang dibantu oleh Bapak Menteri PUPR untuk Bali pada tahun 2026. Semua ini untuk mengatasi kemacetan dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” ucap Koster.
Dari Transportasi ke Ikon Wisata
Konsep water taxi telah diterapkan di berbagai destinasi internasional sebagai solusi mobilitas berbasis perairan yang efektif dan efisien.
Di Venice transportasi air menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat dan wisatawan sejak lama dalam kehidupan sehari hari.
Di Bangkok layanan perahu di Sungai Chao Phraya menjadi alternatif utama untuk menghindari kemacetan jalan raya. Sementara Dubai mengembangkan water taxi modern yang terintegrasi dengan sistem transportasi perkotaan berbasis teknologi.
Di sejumlah negara lain layanan water taxi bahkan berkembang menjadi daya tarik wisata ikonik yang memiliki ciri khas tersendiri. Keunikan tersebut menjadikan water taxi tidak hanya sebagai transportasi tetapi juga pengalaman wisata yang dikenal luas hingga mendunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....