Batu Basurek Prasasti Raja Adityawarman
- 17 Des 2024 08:39 WIB
- Bukittinggi
KBRN RRI Bukittinggi : Batu Basurek, yang juga dikenal sebagai Batu Bersurat atau Prasasti, adalah salah satu peninggalan penting dari masa lalu yang ditemukan di Sumatera Barat, khususnya di daerah Pagaruyung. Batu ini disebut basurek dalam logat Minang, yang berarti batu yang bertuliskan suratan atau prasasti. Sebagai media yang digunakan untuk menuliskan berbagai informasi penting, Batu Basurek menjadi saksi sejarah yang sangat berharga bagi masyarakat Minangkabau, dan memperlihatkan kejayaan serta kemajuan kerajaan pada masa itu.
Batu Basurek umumnya berisi tulisan yang mencatat berbagai informasi penting mengenai kehidupan masyarakat, aturan-aturan ketatanegaraan, peristiwa-peristiwa besar, silsilah kerajaan, serta tanda-tanda kemenangan atau batas wilayah kerajaan. Batu-batu ini sering digunakan oleh raja-raja pada masa lalu untuk mendokumentasikan berbagai hal yang dianggap penting dan perlu diabadikan, baik untuk generasi berikutnya maupun untuk menjaga legasi kekuasaan mereka.
Batu Basurek adalah peninggalan yang sangat khas di Sumatera Barat, khususnya di sekitar wilayah Tanah Datar. Prasasti ini dituliskan pada sebongkah batu, yang menjadikannya tahan lama dan dapat bertahan hingga berabad-abad lamanya. Masyarakat Minangkabau menyebutnya batu basurek karena surat atau tulisan yang ada pada batu ini dianggap seperti "surat yang tertulis di batu" yang menjadi petunjuk atau tanda sejarah bagi siapa saja yang menemukannya.
Tulisan yang terdapat pada Batu Basurek biasanya berbentuk huruf atau aksara yang digunakan pada masa itu, seperti aksara Pallawa yang digunakan pada masa Kerajaan Melayu. Informasi yang terdapat dalam prasasti ini sangat beragam, mulai dari informasi tentang kegiatan politik, hukum, peraturan ketatanegaraan, hingga perayaan kemenangan dalam perang. Batu Basurek juga sering digunakan untuk menetapkan batas wilayah kerajaan, atau menyatakan pengakuan terhadap suatu tanah perdikan, yang berarti tanah yang diberikan oleh raja untuk masyarakat tertentu, sering kali dengan hak-hak istimewa.
Salah satu tokoh penting yang meninggalkan banyak Batu Basurek di Sumatera Barat adalah Raja Adityawarman, seorang penguasa besar di Kerajaan Melayu Pagaruyung. Adityawarman memerintah kerajaan ini selama 30 tahun, dari tahun 1347 hingga 1377, dan dikenal sebagai salah satu raja yang sangat berpengaruh dalam sejarah Melayu.
Pada masa pemerintahannya, Adityawarman memanfaatkan Batu Basurek sebagai alat untuk mengukuhkan kekuasaannya dan mendokumentasikan berbagai keputusan penting yang diambilnya. Batu Basurek yang dikeluarkan oleh Adityawarman mencatat banyak hal terkait dengan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik Kerajaan Pagaruyung pada masa itu. Salah satu aspek penting dari Batu Basurek adalah pencatatan silsilah kerajaan yang digunakan untuk menunjukkan legitimasi dan asal-usul kekuasaan raja.
Beberapa Batu Basurek yang ditemukan di daerah sekitar Pagaruyung mencatatkan peraturan-peraturan penting yang mengatur tentang kehidupan masyarakat, serta memperkuat kedudukan kerajaan. Batu-batu ini juga digunakan untuk mengumumkan kemenangan dalam peperangan dan menandai batas-batas wilayah kerajaan yang lebih luas, memperlihatkan pengaruh yang sangat besar dari Kerajaan Pagaruyung pada masa itu.
Batu Basurek atau prasasti ini memiliki banyak fungsi dalam sejarah. Pertama-tama, batu ini berfungsi sebagai dokumen resmi yang mencatatkan segala keputusan penting yang diambil oleh raja atau penguasa. Hal ini sangat penting untuk memberikan bukti tertulis mengenai kebijakan atau peraturan yang dikeluarkan pada masa itu. Dengan demikian, Batu Basurek menjadi salah satu cara untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat luas, baik pada masa itu maupun untuk generasi yang akan datang.
Selain itu, Batu Basurek juga berfungsi sebagai simbol kekuasaan dan legitimasi dari penguasa yang memerintah. Adityawarman, sebagai contoh, menggunakan batu ini untuk mengukuhkan dirinya sebagai raja yang sah dan memperlihatkan bahwa kekuasaannya memiliki dasar yang kuat dan diakui oleh masyarakat.
Makna filosofis dari Batu Basurek juga sangat besar. Batu yang digunakan sebagai media untuk menulis ini melambangkan ketahanan, kekuatan, dan keabadian. Batu dianggap sebagai material yang tahan lama dan tidak mudah hancur, yang menandakan bahwa keputusan atau informasi yang tertulis di atasnya juga dianggap penting dan abadi. Dalam konteks kerajaan, hal ini menunjukkan bahwa keputusan-keputusan yang diambil oleh penguasa memiliki dampak jangka panjang dan harus dihormati oleh generasi-generasi berikutnya.
Batu Basurek yang ditemukan di berbagai lokasi di Sumatera Barat, terutama yang berasal dari masa pemerintahan Adityawarman, kini menjadi bagian dari warisan budaya yang sangat penting. Batu ini tidak hanya bernilai sebagai artefak sejarah, tetapi juga sebagai simbol kekayaan budaya dan intelektualitas masyarakat Minangkabau pada masa lalu.
Dalam konteks pelestarian sejarah, Batu Basurek menjadi sumber yang sangat berharga untuk mempelajari lebih dalam tentang struktur pemerintahan, sistem sosial, dan kehidupan masyarakat pada masa Kerajaan Pagaruyung. Oleh karena itu, menjaga dan merawat Batu Basurek sangat penting untuk memastikan bahwa warisan budaya ini tetap terjaga dan dapat dipelajari oleh generasi mendatang.
Batu Basurek, atau prasasti, yang ditemukan di Sumatera Barat, khususnya yang berasal dari masa Raja Adityawarman, merupakan peninggalan yang sangat berharga dalam sejarah Indonesia. Batu-batu ini bukan hanya berfungsi sebagai alat dokumentasi sejarah, tetapi juga sebagai simbol kekuasaan dan keabadian dari Kerajaan Pagaruyung. Keberadaan Batu Basurek memberikan gambaran mendalam mengenai kehidupan politik, sosial, dan budaya pada masa itu, serta menjadi saksi bisu dari kejayaan Kerajaan Melayu yang pernah ada.
Sebagai warisan budaya, Batu Basurek harus dijaga dan dilestarikan agar cerita dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat terus diwariskan kepada generasi yang akan datang.(ER)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....