Etika Bermedia Sosial dalam Pespektif Islam

  • 06 Mar 2026 17:42 WIB
  •  Waykanan

RRI.CO.ID,Way Kanan:Dalam era digital saat ini, media sosial adalah cerminan diri. Islam sebagai agama yang komprehensif telah memberikan panduan etika berkomunikasi (adab) yang sangat relevan untuk diterapkan di dunia maya agar jempol kita tidak membawa mudarat.

Ustad M Khotib Rifai mengatakan etika bermedia sosial dalam perspektif Islam:

1. Tabayyun: Cek Sebelum Sebar
Etika paling utama adalah melakukan verifikasi (tabayyun). Sesuai perintah Allah dalam QS. Al-Hujurat: 6, kita dilarang keras menelan mentah-mentah informasi yang datang, apalagi menyebarkannya tanpa kepastian. Menghindari hoaks adalah kewajiban agama.

2. Hindari Ghibah Digital dan Namimah
Media sosial sering menjadi ladang ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba). Menulis komentar buruk, membongkar aib orang lain, atau menyindir secara terbuka di status sangat dilarang. Islam mengajarkan untuk menutup aib saudara sendiri jika ingin Allah menutup aib kita di akhirat.

3. Berkata Baik atau Diam (Qawlan Layyinan)
Rasulullah SAW bersabda bahwa tanda kesempurnaan iman adalah berkata baik atau diam. Dalam bermedsos, gunakanlah kalimat yang santun (qawlan layyinan). Jika tidak bisa memberikan manfaat melalui postingan atau komentar, maka menahan diri adalah ibadah yang paling aman.

4. Menjauhi Sifat Riya dan Pamer
Membagikan momen kebahagiaan diperbolehkan sebagai bentuk syukur, namun harus waspada terhadap penyakit hati seperti riya (ingin dipuji) dan ujub (bangga diri). Pastikan niat postingan adalah untuk berbagi inspirasi atau informasi, bukan untuk merendahkan orang lain dengan kemewahan yang kita miliki.

5. Menjaga Pandangan dan Aurat
Etika ghadhul bashar (menjaga pandangan) juga berlaku di media sosial. Hindari mengonsumsi konten yang tidak senonoh atau memajang foto diri yang melanggar batas-batas aurat. Apa yang kita unggah akan menjadi amal jariyah, baik itu amal saleh maupun dosa jariyah.

6. Memanfaatkan sebagai Media Dakwah
Jadikanlah akun Anda sebagai "timbangan amal" yang berat di sisi kanan. Gunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, nasihat agama, dan edukasi yang bermanfaat. Satu kutipan bermanfaat yang Anda bagikan bisa menjadi penolong di hari perhitungan nanti.

Media sosial hanyalah alat; penggunanyalah yang menentukan arahnya. Dengan menerapkan etika Islam, kita menjadikan aktivitas digital bukan sekadar hiburan, melainkan ladang pahala yang menenangkan hati.

Rekomendasi Berita