Menghidupkan Kesenian Minangkabau Lewat Sanggar Seni Ranah Saiyo
- 01 Des 2025 19:56 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta : Wiwien Prima Yalendes, perempuan kelahiran Lubuk Sikaping, 5 Desember 1987, terus meneguhkan komitmennya dalam melestarikan budaya Minangkabau. Putri sulung dari empat bersaudara ini berasal dari suku Madailiang dan tinggal di Jalan Gajah Mada No. 01B. Selain menjadi tenaga pengajar di SDN 11 Tanjung Alai, Lubuk Sikaping, ia juga merupakan pendiri dan pengelola Sanggar Seni Ranah Saiyo.
Kecintaannya pada dunia tari tumbuh sebagai panggilan hati. Wiwien merasa banyak kisah dan cerita rakyat Minangkabau yang dapat dieksplorasi menjadi karya tari.Wiwien mengatakan “Saya ingin menggali setiap tarian Minangkabau, karena di dalamnya ada cerita, nilai, dan identitas yang harus dijaga,” ujarnya disaat di wawancara dalam acara Apresiasi Budaya Minangkabau di Pro 4 RRI Jakarta, Rabu malam (26/11/2025) melalui sambungan telp. Latar pendidikan S1 yang ia tempuh ikut memperkuat langkahnya untuk terus berkarya di bidang seni tradisi.

Wiwien berharap Sanggar Seni Ranah Saiyo dapat terus menjadi wadah bagi anak-anak nagari untuk menggali potensi diri sekaligus menjaga warisan budaya Minangkabau. (Foto: Wiwien)
Sanggar Seni Ranah Saiyo yang ia dirikan memiliki makna sebagai tempat untuk bermufakat dalam melestarikan budaya Minangkabau. Sanggar ini aktif mengadakan kelas tari khusus pada masa libur semester, memberi ruang bagi anak-anak nagari untuk belajar dan berkembang. “Pendekatan yang saya lakukan adalah menampilkan pertunjukan khusus untuk anak-anak. Dari rasa penasaran, mereka lalu mulai berminat dan bergabung,” kata Wiwien.
Kegiatan sanggar berlangsung di dua lokasi, yaitu di Kanagarian Pauah dan Kanagarian Durian Tinggi. Dukungan keluarga besar menjadi kekuatan penting bagi Wiwien untuk terus melangkah. “Alhamdulillah, orang tua sangat mendukung karena kegiatan ini berdampak positif untuk anak-anak di sekitar lingkungan kami,” tuturnya. Pesan orang tuanya selalu ia ingat: “Apapun cita-citamu, gapai dan perjuangkan.”
Ke depan, Wiwien berharap Sanggar Seni Ranah Saiyo dapat terus menjadi wadah bagi anak-anak nagari untuk menggali potensi diri sekaligus menjaga warisan budaya Minangkabau. “Saya ingin sanggar ini tetap hidup, berkembang, dan menjadi ruang bagi generasi muda untuk mencintai kebudayaan mereka sendiri,” harapnya penuh keyakinan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....