Sasi Adat: Warisan Tradisi Leluhur di Maluku

  • 01 Agt 2025 18:20 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Sasi adat adalah tradisi kearifan lokal masyarakat Maluku yang masih bertahan hingga hari ini. Meski zaman terus berubah, sasi tetap dijalankan sebagai bentuk perlindungan terhadap alam dan penguat nilai kebersamaan. Tradisi ini melarang pengambilan hasil alam di area tertentu selama waktu yang telah disepakati. Menariknya, sasi bukan hanya soal larangan, tapi juga soal kesadaran dan tanggung jawab bersama.

Dalam siaran “Suara Budaya Nusantara” di RRI Pro4 Jakarta dan RRI Ambon, pelaku sini muda asal Ambon bernama Vigel menjelaskan makna sasi di era modern. “Nilai moralnya terlihat ketika satu negeri bisa sama-sama patuh tanpa harus dipaksa,” ujarnya. Menurut Vigel, sasi dilakukan demi kesejahteraan bersama, bukan untuk keuntungan pribadi. Sasi menjadi bentuk komitmen masyarakat dalam menjaga alam dan nilai adat.

Prosesi sasi sendiri dilakukan di rumah adat atau Baileo dan dipimpin oleh kewang, yaitu penjaga adat. Vigel menambahkan, “Hukuman bagi pelanggar tidak selalu denda uang, bisa juga harus menyerahkan sebagian hasil ke negeri.” Ini menjadi efek jera agar masyarakat tetap menghargai aturan adat. Menariknya, sasi juga diterapkan oleh gereja maupun masjid, sehingga nilai moralnya lintas agama.

Meski masih dijalankan, sasi kini menghadapi tantangan dari eksploitasi industri dan kurangnya perhatian pemerintah. Vigel menyayangkan ketika wilayah yang sudah disasi tetap dibuka untuk kepentingan lain. “Kalau atas sudah ditutup tapi bawah tetap dibuka, bisa fatal. Nyawa bisa jadi hukumannya,” tegasnya, merujuk pada kasus pendaki yang meninggal karena pelanggaran sasi. Hal ini memperlihatkan pentingnya sinkronisasi antara adat dan kebijakan.

Meski begitu, Vigel tetap optimis generasi muda bisa melestarikan tradisi ini. Ia mengajak semua pihak, termasuk anak muda, untuk kembali memahami nilai sasi sebagai warisan luhur. “Mari jaga bersama karena ini titipan Tuhan, bukan milik pribadi,” pungkasnya. Sasi bukan sekadar tradisi, tapi juga cara menjaga alam, melatih disiplin, dan memperkuat ikatan sosial di tengah arus zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....