Charles Toto Membawa Kuliner Papua Mendunia Melalui Gastrodiplomasi Hutan Papua

  • 12 Jun 2026 11:56 WIB
  •  Wamena

RRI.CO.ID, PAPUA – Makanan bukan sekadar pengisi lambung yang kosong, melainkan identitas, penjaga tradisi, sekaligus jembatan diplomasi budaya yang melintasi batas-batas negara. Ditangan Charles Toto, seorang juru masak yang dijuluki 'Jungle Chef asal Papua', kekayaan pangan lokal dari jantung hutan bumi cenderawasih kini menjelma menjadi instrumen "gastrodiplomasi" yang memperkenalkan wajah Papua kepada Indonesia dan dunia.

“Makanan adalah identitas. Jangan malu dengan makanan dari rumahmu. Kalau kamu ingin dikenal dunia, maka kenalkan dulu siapa dirimu lewat piringmu,” ujar Charles Toto.

Dengan mantap, ia menegaskan bahwa kuliner rumahan bukanlah sesuatu yang kampungan, melainkan sebuah kekayaan yang tak ternilai.

Hasil olahan kuliner berbahan lokal Papua yang diolah oleh Charles Toto & Sekolah Pekarangan. (Foto: Charles Toto)

Perjalanan dedikasi pria yang akrab disapa Kak Charles ini tidak tumbuh dalam semalam. Kisahnya dimulai jauh pada tahun 1997 silam. Saat itu, ia kerap memasak untuk para tamu dan wisatawan yang berkunjung ke wilayah pedalaman Papua.

Tanpa fasilitas dapur modern yang mewah dan lengkap, Charles justru tertantang untuk beradaptasi dengan alam. Ia mulai belajar mengolah bahan-bahan pangan lokal segar langsung dari lantai hutan, umbi-umbian asli Papua, rempah-rempah liar yang kaya khasiat, hingga daun-daunan herbal yang dipetik langsung dari alam sekitar.

Langkah berani ini diambil karena ia memilih untuk tidak lagi membawa bumbu-bumbu instan dari wilayah perkotaan. Charles justru memilih menggali, meramu, dan merayakan cita rasa autentik yang bersumber langsung dari tanah Papua sendiri.

Chef Kia dari New Zealand, masak hangi ala bakar baru bareng Chef Charles Toto “The Jungle Chef” dari Papua dengan bahan lokal seperti buah merah, dan bahan lain (Foto: Instagram nzembassy_indonesia)

Bagi Charles Toto, kedekatannya dengan alam Papua merupakan fondasi dari seluruh gerakannya. Sejak masa kecil, ia tumbuh dan hidup berdampingan secara harmonis dengan ekosistem hutan. Di matanya, hutan memiliki posisi yang sakral.

"Bagi saya, hutan bukan sekadar tempat tinggal. Tetapi hutan itu ibarat mama yang memberi makan, memberikan perlindungan, dan menjamin kehidupan," ungkap Charles.

Prinsip hidupnya ini melahirkan sebuah filosofi pangan yang sangat mendalam mengenai kedaulatan pangan lokal. "Hutan itu pasar tanpa uang, karena semua kebutuhan bisa didapatkan dari alam asalkan dijaga dengan baik," tegasnya.

Strategi 'gastrodiplomasi' yang diusung Charles terbukti ampuh. Ia berhasil membawa keunikan kuliner hutan Papua keluar dari sekat-sekat lokal menuju panggung festival kuliner internasional yang bergengsi.

Tercatat, Charles Toto pernah tampil dan mendemonstrasikan keahlian memasaknya di berbagai ajang dunia, di antaranya Slow Food Festival di Italia, dan Melbourne Food & Wine Festival di Australia.

Melalui diplomasi di atas piring ini, Charles menantang narasi kuliner global. Ia percaya bahwa jika dunia bisa mengagumi dan mengenali makanan khas luar negeri seperti sushi, ramen, atau pizza, maka kuliner tradisional Indonesia khususnya Papua juga memiliki hak dan potensi yang sama untuk diperjuangkan.

Hasil olahan kuliner berbahan lokal Papua yang diolah oleh Charles Toto & Sekolah Pekarangan. (Foto: Charles Toto)

"Bayangkan kalau orang mendengar ikan gabus kuah hitam, mereka langsung tahu bahwa itu dari Sentani," tuturnya. Sebab bagi seorang Jungle Chef, misi utamanya bukan sekadar membuat perut orang kenyang, melainkan mengangkat harkat, martabat, dan narasi cerita budaya Papua ke tingkat global.

Charles menyadari bahwa perjuangan menjaga ketahanan pangan dan budaya tidak bisa dilakukan sendirian. Melihat fenomena generasi muda Papua yang mulai kehilangan arah dan tercerabut dari akar budayanya, ia menginisiasi langkah konkret lewat pembentukan "Papua Jungle Chef Community (PJCC)".

Melalui komunitas PJCC ini, anak-anak muda Papua dirangkul dan diajarkan berbagai keterampilan strategis memasak makanan tradisional dengan teknik yang higienis, melayani tamu-tamu asing dengan standar profesional, dan menyajikan kuliner khas Papua agar mampu bersaing dalam standar internasional tanpa kehilangan keasliannya.

Sala satu seniman kuliner Papua Kaka carlae tato mengajar generasi muda untuk tetap menjaga makanan makanan khas Daerah di Papua, Harapan Kaka Carles tato, anak muda Papua jangan berfikir makan lokal, makanan kampung tapi, berfikir bahwa makanan ini sehat dari tana leluhur kita. (Foto: Instagram Yukiusmeagalanput)

Selain PJCC, Charles juga mendirikan "Sekolah Pekarangan", sebuah wadah pendidikan non-formal yang mengajak anak-anak usia dini untuk mengenali kembali potensi pangan yang ada di sekitar pekarangan rumah mereka.

Di sekolah ini, tanaman-tanaman yang kerap dianggap biasa seperti daun jambu biji, bunga bougenville, hingga rempah-rempah liar diolah secara kreatif menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, seperti teh herbal, buah kering, hingga tren edible flowers.

Melalui sinergi gerakan Papua Jungle Chef Community dan Sekolah Pekarangan, Charles Toto tidak hanya berhasil melestarikan alam, tetapi juga memastikan bahwa api kecintaan terhadap kuliner tradisional Papua akan terus menyala di tangan generasi penerus bangsa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....