Lebih dari Sekadar Kuliner, Papeda Simbol Kebersamaan dan Identitas Alam Papua
- 26 Apr 2026 08:00 WIB
- Wamena
RRI.CO.ID, WAMENA – Papua tidak hanya menawarkan keindahan alam yang memukau, tetapi juga kekayaan kuliner yang sarat akan makna filosofis. Salah satunya adalah Papeda, makanan pokok khas masyarakat Papua yang terbuat dari sagu. Lebih dari sekadar pengganjal perut, papeda merupakan representasi dari hubungan harmonis antara manusia, alam, dan sesama.
Papeda bukanlah hidangan baru. Temuan arkeologis berupa gerabah dan alat batu penokok sagu di kawasan Danau Sentani membuktikan bahwa makanan ini telah dikonsumsi sejak masa prasejarah. Hingga kini, tradisi mengolah sagu menjadi papeda tetap bertahan di tengah gempuran modernisasi.
Bagi masyarakat Papua, hutan adalah "toko swalayan" alami. Disanalah mereka mengambil sagu untuk kemudian diolah menjadi tekstur kenyal dan lengket yang menjadi ciri khas papeda.
Keunikan papeda terletak pada cara penyajian dan nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Ada sebuah tradisi yang dikenal dengan sebutan Helai Mbai Hote Mbai.
Helai Mbai Hote Mbai adalah tradisi makan papeda bersama dalam satu wadah gerabah (sempe) yang dilakukan masyarakat Sentani, Papua, sebagai simbol persatuan dan ikatan kekeluargaan yang kuat. Secara bahasa, Helai berarti piring/sempe, Hote adalah wadah ikan, dan Mbai artinya satu.
Tradisi ini merujuk pada kebiasaan satu keluarga makan dari satu piring yang sama. Momen makan papeda menjadi ruang bagi orang tua untuk memberikan nasihat dan anak-anak berbagi cerita. Bahkan, keramahan masyarakat Papua tercermin saat mereka mengajak tetangga yang lewat untuk ikut makan bersama.
Karena teksturnya yang lengket, papeda tidak disantap dengan sendok biasa, melainkan menggunakan hiloi (sepasang garpu kayu besar). Cara mengambilnya pun unik dengan teknik menggulung hingga membentuk gumpalan.
Menariknya, arah gulungan papeda baik ke arah dalam maupun luar ternyata dapat menunjukkan asal daerah seseorang. Hal ini menjadikan papeda sebagai identitas budaya yang sangat personal bagi tiap suku di Papua.
Secara umum, terdapat dua jenis papeda yang sering ditemui:
1. Papeda Panas: Disajikan langsung setelah disiram air mendidih, biasanya dinikmati bersama ikan kuah kuning yang segar.
2. Papeda Bungkus: Papeda panas yang dibungkus menggunakan daun fotofe, didiamkan hingga dingin, baru kemudian disantap.
Kini, papeda telah naik kelas. Hidangan ini tidak hanya ditemukan di dapur-dapur rumah warga, tetapi juga di restoran berbintang hingga festival kuliner internasional. Meskipun cara menikmatinya mulai beragam, esensi papeda sebagai penyatu kebersamaan tetap tidak berubah.
Papeda adalah bukti nyata bagaimana diversifikasi pangan lokal mampu menjaga keberlangsungan hidup sekaligus merawat hubungan antar manusia. Bagi Anda yang sedang berkunjung ke Timur Indonesia, mencicipi papeda adalah cara terbaik untuk "merasakan" kedalaman budaya Papua.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....