Suku didunia yang berevolusi jadi manusia super
- 01 Mar 2026 15:01 WIB
- Wamena
RRI.CO.ID, Wamena - Istilah manusia super dalam konteks sains merujuk pada adaptasi genetik ekstrim yang memungkinkan kelompok manusia tertentu bertahan hidup di lingkungan yang mematikan bagi orang awam. Berdasarkan data valid dari penelitian jurnal Cell, Science, dan Nature, berikut adalah suku-suku tersebut:
1. Suku Bajau (Indonesia): Kapasitas Limpa Raksasa
Suku Bajau, atau Pengembara Laut memiliki kemampuan menyelam bebas yang luar biasa, terkadang hingga kedalaman 70 meter hanya dengan satu tarikan napas. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Cell (2018) oleh Melissa Ilardo menunjukkan bahwa Suku Bajau memiliki limpa yang 50% lebih besar dibandingkan suku tetangga (Suku Saluan). Limpa berfungsi sebagai "tabung oksigen alami". Saat menyelam, limpa berkontraksi dan melepaskan sel darah merah yang kaya oksigen ke aliran darah. Hal ini dipicu oleh mutasi pada gen PDE10A.
2. Suku Tibet & Sherpa (Himalaya): Efisiensi Oksigen
Tinggal di ketinggian di atas 4.000 meter berarti menghirup udara dengan kadar oksigen 40% lebih rendah dari permukaan laut. Orang biasa akan terkena penyakit ketinggian (altitude sickness), namun tidak dengan mereka. Studi menunjukkan mereka mewarisi "gen super atlet" yang disebut EPAS1. Uniknya, gen ini diduga berasal dari perkawinan silang manusia purba Denisovan ribuan tahun lalu.
Berbeda dengan orang awam yang memproduksi lebih banyak sel darah merah (yang membuat darah kental dan berisiko stroke), tubuh orang Tibet justru menggunakan oksigen secara lebih efisien tanpa harus mengentalkan darah.
3. Suku Inuit (Greenland): Metabolisme Lemak Ekstrem
Suku Inuit bertahan hidup di suhu beku dengan diet yang hampir seluruhnya terdiri dari lemak hewan laut (anjing laut dan paus) yang sangat tinggi Omega-3.
Jurnal Science (2015) mengidentifikasi mutasi pada kluster gen FADS yang mengatur metabolisme asam lemak. Mutasi ini membantu mereka memproses diet tinggi lemak tanpa terkena penyakit jantung atau penyumbatan pembuluh darah. Efek samping dari adaptasi ini adalah postur tubuh mereka yang cenderung lebih pendek untuk menjaga panas tubuh.
4. Suku Kalenjin (Kenya): Efisiensi Berlari
Suku ini secara konsisten mendominasi podium maraton dunia. Meskipun faktor budaya berperan, ada komponen biologis yang sangat kuat. Secara anatomi, mereka memiliki pergelangan kaki dan betis yang sangat ramping (thin ankles and calves). Dalam fisika gerak, kaki yang ringan di bagian ujung (bawah) bertindak seperti pendulum yang lebih efisien. Ini meminimalkan energi yang terbuang saat berlari jarak jauh, membuat mereka memiliki daya tahan (endurance) yang hampir mustahil ditandingi ras lain.
Menariknya evolusi ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan hasil dari ribuan tahun menyesuaikan diri dengan alam yang keras. Ini membuktikan bahwa tubuh manusia sangat adaptif terhadap tantangan lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....