Sagu: Identitas Pangan Orang Papua Selama 50.000 Tahun

  • 10 Des 2025 15:58 WIB
  •  Wamena

KBRN, Wamena: Sejak 50.000 tahun lalu, saat para leluhur pertama kali menjejakkan kaki di tanah Papua, sagu (Metroxylon sagu) telah menjadi teman setia dan sumber kehidupan utama.

Pangan kuno ini, yang dulunya tumbuh liar ditepi sungai, rawa, dan danau, bukan sekadar pengganjal perut, melainkan telah meresap menjadi doa, pengetahuan, dan cara menghormati alam bagi masyarakat adat Papua.

Peneliti BRIN, Hari Suroto, menyebutkan bahwa jejak leluhur yang memangkur sagu menggunakan alat batu masih tersisa di gerabah kuno. Hal ini menunjukkan betapa dalamnya akar budaya sagu dalam sejarah peradaban Papua.

Indonesia memegang peranan krusial sebagai pemilik 85% hutan sagu dunia, dan sebagian besar kekayaan alam ini terkonsentrasi di Tanah Papua. Keunggulan sagu adalah kemampuannya tumbuh tanpa merusak alam, menjadikannya pangan yang sangat ramah lingkungan.

Sagu adalah identitas, kekuatan, dan masa depan pangan yang berkelanjutan. Oleh masyarakat Papua, sagu sering disapa dengan sebutan penuh hormat "Mama Sagu", mama yang memberi makan, menjaga, dan mengikat persaudaraan.

Setiap suku di Papua memiliki cara unik dan penuh kearifan dalam menjaga kelestarian sagu, yang mencerminkan filosofi hidup berkelanjutan.

Orang Sentani, menebang pohon sagu hanya seperlunya, memastikan kelangsungan hidup populasi sagu. Sementara Korowai, menjadikan tunas sagu sebagai simbol generasi baru, menjaga siklus kehidupan pohon.

Untuk orang Marori, menempatkan sagu dalam setiap ritus hidup, menunjukkan betapa sakralnya pohon ini. Sedangkan marga Mahuze menyebut sagu sebagai totem persaudaraan, simbol ikatan sosial dan kekeluargaan.

Sebelum penebangan, ritual penghormatan dilakukan membersihkan semak, meminta izin kepada alam, lalu menokok batang secara perlahan. Setiap serat sagu yang keluar disyukuri sebagai berkat dari alam.

Hingga hari ini, tradisi mengolah sagu di Papua masih dipertahankan turun-temurun, dari generasi ke generasi. Proses tradisional memukul (menokok) batang sagu dan mencucinya untuk mendapatkan pati adalah bukti nyata ketahanan budaya dan pangan.

Dalam konteks tantangan iklim global dan isu ketahanan pangan, sagu Papua menawarkan solusi yang menjanjikan. Sagu bukan hanya milik Papua, ia adalah masa depan pangan yang ramah lingkungan, sarat kearifan, dan telah teruji selama puluhan ribu tahun.

(Sumber: Dari konten "Jadi Bagian Budaya, Orang Papua Konsumsi Sagu Sejak 50 Ribu Tahun Lalu", oleh Christopel Paino, Mong)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....