Diterpa Berjuta Persoalan, Sasirangan Banjar Tetap Eksis
- 30 Sep 2023 07:42 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin : Kain Sasirangan merupakan kain adat Suku Banjar di Kalimantan Selatan yang diwariskan secara turun-temurun. Merujuk Hikayat Banjar, kain ini sudah dibuat pada sekitar abad ke-7 dengan nama Kain Langgundi. Nama sasirangan dipakai sesuai cara atau proses pembuatan kain ini, yaitu “sa” berarti satu dan “sirang” berarti jelujur. Kain ini dibuat dengan teknik tusuk jelujur, kemudian diikat dengan benang atau tali dan dicelup ke pewarna pakaian. Banyak orang menyebut kain sasirangan sebagai “batik Banjar”. Padahal proses pembuatannya berbeda dari batik yang menorehkan malam (lilin) dengan canting.
Pada mulanya kain sasirangan menggunakan bahan dasar dari benang kapas atau serat kulit kayu. Seiring kemajuan teknologi, sasirangan dibuat dari bahan lain seperti sutera, satin, santung, balacu, kaci, polyster, hingga rayon. Pewarnaannya semula menggunakan bahan-bahan alami. Misal, warna kuning didapat dari kunyit atau temulawak; merah berasal dari buah mengkudu, gambir, dan kesumba; hijau dari kabuau atau uar; ungu dari biji buah gandari; dan coklat dari kulit buah rambutan. Namun kini lebih banyak pengrajin menggunakan pewarna sintetis.
Seperti kain pada umumnya, kain sasirangan memiliki banyak motif. Di antaranya sarigading, ombak sinapur karang (ombak menerjang batu karang), hiris pudak (irisan daun pudak), bayam raja (daun bayam), kambang kacang (bunga kacang panjang), naga balimbur (ular naga), daun jeruju (daun tanaman jeruju), bintang bahambur (bintang bertaburan di langit), kulat karikit (jamur kecil), gigi haruan (gigi ikan gabus), turun dayang (garis-garis), kangkung kaombakan (daun kangkung), jajumputan (jumputan), kambang tampuk manggis (bunga buah manggis), dara manginang (remaja makan daun sirih), putri manangis (putri menangis), kambang cengkeh (bunga cengkeh), awan beriring (awan sedang diterpa angin), benawati (warna pelangi), bintang bahambur (bintang bertaburan di langit), turun dayang (garis-garis), dan sisik tanggiling. Selain itu, di tangan-tangan para pengrajin kreatif, muncul beragam motif yang tak kalah indah.
Terkait Sasirangan ini, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIEI) Banjarmasin juga memiliki Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang mengkhususkan untuk kegiatan Sasirangan. Sehingga Ketua Sekolah Tinggi tersebut, Dr Yanuar Bachtiar SE MSi mengatakan, Sasirangan basisnya Manufaktur Tradisional, sehingga ditingkatkan ke modern, sulit.
"Karena bahan, pewarna dan lainnya masih dilakukan secara tradisional. Inilah PR kita bersama. Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, harus bisa dikembangkan lebih jauh," ujar Yanuar.
Demikian juga pesan Yanuar, dalam proses produksi bagaimana memodernisasi segala bentuk di sasirangan. Juga pasca produksi dengan pintar-pintar memanfaatkan teknologi informasi, agar bisa mendunia, menjadi second opinian setelah batik atau batik sasirangan.
Terkait pewarna alami, Yanuar menilai, pewarna alami kita memang betul-betul alami dan tidak tersentuh teknologi. Sehingga Yanuar menyarankan, bahan alami dengan sentuhan teknologi, sehingga bisa lebih baik. Untuk itu, perlu modernisasi dalam memproduksi. Dan memang, pengrajin sasirangan mengakui, untuk pewarna sintetis cukup satu kali celupan, warna sudah sangat cerah. Sedangkan pewarna alami, perlu lima kali celupan.
Sebenarnya Pemerintah Kota Banjarmasin sudah banyak terlibat langsung dalam mempopulerkan Sasirangan dengan kegiatan rutin tahunan yang diberi nama Banjarmasin Sasirangan Festival.
Kilas balik lagi terkait hal ini. Banjarmasin Sasirangan Festival merupakan event tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata dalam rangka mempromosikan kain Sasirangan. Banjarmasin Sasirangan Fesrival bertujuan untuk mempromosikan kain Sasirangan, kain tradisional khas Kalimantan Selatan, kepada generasi muda dan masyarakat luas, serta meningkatkan kesejahteraan para perajin kain Sasirangan. Banjarmasin Sasirangan Festival telah dilaksanakan sejak tahun 2016 hingga 2023. Di tahun 2023, event tersebut terpilih pertama kalinya sebagai Karisma Event Nusantara (KEN) 2023.
Apa itu KEN? Kharisma Event Nusantara atau KEN, merupakan strategi kolaborasi Kemenparekraf bersama Pemerintah Daerah dan seluruh stakeholder pariwisata untuk menaikkan citra pariwisata Indonesia dan penggerak kebangkitan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Sasirangan juga sudah masuk ke jalur penjualan online dan Sasirangan juga bisa dibeli secara online melalui Shopie, Toko Pedia, juga berbagai informasi lainnya yang salah satunya priceza.co.id.
Sasirangan juga pernah dikenakan oleh Ustaz Abdul Somad alias UAS mengenakan baju bermotif kalayangan bakacak pinggang dan syal bermotif buhan tikup dari bahan kain sasirangan khas Kabupaten Tapin, saat ceramah di depan kediaman Bupati Tapin pada 2022. Sasirangan juga sempat dilirik oleh paea Disabilitas. Salah satu pengrajin di Galeri Rumah Disabilitas Borneo, menyediakan berbagai produk kerajinan tangan dengan motif sasirangan hasil karya penyandang disabilitas yang beralamat di Jl. Batu Besar Teluk Dalam, Kecamatan Banjarmasin Tengah, buka hari Senin sampai Sabtu pukul 09.00 – 17.00 WITA. Namun hal ini saat ini belum jelas perkembangannya.
Saat ditanya untuk lebih memperhatikan Sasirangan dengan melakukan kegiatan Diskusi maupun Seminar, Yanuar menyebutkan, dirinya pernah diundang dalam konteks Sasirangan dan semua peserta dalam kegiatan itu mempunyai kesamaan pemahaman.
"Harus bisa diboomingkan. Diperkenalkan sampai ke Sekolah Dasar (SD). Apa, bentuk dan teknik produksi diperkenalkan. Agar tidak habis dalam satu era generasi," pesan Yanuar, dan mengingatkan bahwa inilah catatan penting dalam Pengembangan Sasirangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....