Indef Ungkap Dampak Kenaikan Harga Plastik terhadap Biaya dan Penjualan UMKM

  • 16 Apr 2026 15:52 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Esther Sri Astuti menyebut kenaikan harga plastik meningkatkan biaya produksi dan menekan margin keuntungan UMKM
  • Pelaku UMKM cenderung menaikkan harga produk atau mengurangi margin, dengan risiko penurunan omzet dan perlambatan sektor
  • Pemerintah didorong menerapkan kebijakan seperti Pigovian Tax dan insentif kemasan ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan plastik

RRI.CO.ID, Jakarta - Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menyatakan kenaikan harga plastik meningkatkan biaya produksi dan menekan margin keuntungan pelaku UMKM. Ia menjelaskan pelaku usaha memiliki pilihan menaikkan harga jual produk sebagai alternatif untuk menutup kenaikan biaya tersebut.

“Karena itu mungkin alternatif solusinya ya bergeser pemakaiannya dari plastik ke pemakaian kemasan bukan plastik gitu. Atau mau menaikkan harga produknya atau mau mengurangi margin (batas) keuntungannya,” kata Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti kepada RRI PRO3 di Jakarta, Kamis, 16 April 2026.

Esther mengatakan kenaikan harga jual produk UMKM berisiko menurunkan omzet karena daya beli konsumen dapat terpengaruh. Ia menegaskan kondisi ini berpotensi menimbulkan perlambatan di sektor tertentu serta memicu tekanan inflasi ke depan.

Menurutnya, pelaku UMKM khususnya sektor kuliner cenderung membebankan kenaikan biaya plastik kepada konsumen melalui harga produk. Ia menyebut praktik tersebut sudah terjadi di lapangan, dengan pelaku usaha menginformasikan kenaikan harga akibat biaya kemasan meningkat.

Ia menjelaskan pemerintah dapat mempertimbangkan kebijakan Pigovian Tax untuk mengendalikan penggunaan plastik sekaligus mendorong perubahan perilaku konsumen. Ia menambahkan kebijakan tersebut dapat diimbangi dengan pemberian insentif bagi kemasan ramah lingkungan agar lebih kompetitif dibanding plastik.

Esther memproyeksikan harga plastik akan tetap tinggi selama konflik Timur Tengah berlangsung karena ketergantungan bahan baku dari kawasan tersebut. Ia menekankan pentingnya mencari sumber alternatif serta mendorong peralihan ke kemasan ramah lingkungan guna mengurangi ketergantungan tersebut.

“Harus bisa dipikirkan kemasan daur ulang, atau memang diberikan alternatif negara impor yang lainnya. Yang bisa kita mendapatkan bahan baku untuk menjadikan produk plastik ini gitu,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Induk UMKM Nana Riwayatie menyatakan pelaku UMKM mengalami guncangan hebat akibat lonjakan harga plastik belakangan ini. Ia menjelaskan plastik merupakan kebutuhan utama bagi pedagang makanan dan minuman sehingga dampaknya dirasakan sangat luas.

Nana mengungkapkan kenaikan harga plastik memaksa pelaku UMKM menaikkan harga produk sekitar lima hingga sepuluh persen sementara waktu. Ia menambahkan langkah tersebut diambil sambil mencari alternatif kemasan lain serta menunggu solusi konkret dari pemerintah.

“Saya sudah cek ya di beberapa tempat itu ya mereka menaikkan sekitar 5 sampai 10 persen. Karena sambil mencari solusi ya mungkin ada jalan lain yang bisa menggantikan si gelas plastik ini atau kemasan plastik,” ujarnya.

Menurutnya, sebagian pelaku UMKM juga mulai menghemat penggunaan kemasan plastik secara ketat demi menekan biaya operasional usaha. Ia mengatakan kebiasaan membuang kemasan yang sedikit rusak kini berubah menjadi lebih diperhitungkan sambil menunggu harga kembali stabil.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....