Harga Plastik Meroket, DPR Dorong Konversi Bahan Baku Plastik
- 14 Apr 2026 06:16 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- DPR mendorong konversi bahan baku plastik dari minyak ke sawit atau bioplastik imbas meroketnya harga plastik akibat konflik global.
- Bahan baku plastik dari sawit atau bioplastik juga memiliki keunggulan ramah lingkungan.
RRI.CO.ID, Bekasi - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim mendorong konversi bahan baku plastik dari minyak ke sawit atau bioplastik. Langkah ini diambil sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan penggunaan plastik berbahan baku minyak di tengah meroketnya harga plastik.
Menurutnya, bioplastik saat ini tengah digenjot oleh Pemerintah Indonesia. Dan saat ini Kementerian Perindustrian sedang berkoordinasi dengan kementerian lain terkait pengembangan bioplastik.
"Kita sudah koordinasi dengan Kementerian Perindustrian soal konversi bahan plastik tidak hanya dari minyak. Tapi bisa jadi produk Sawit, dan itu sedang dikerjakan tinggal koordinasi dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian lain," katanya, Senin, 13 April 2026.
Ia juga menjelaskan, bahwa bioplastik juga memiliki keunggulan ketimbang plastik dari minyak. Bioplastik kata dia, jauh lebih ramah lingkungan.
"Jadi kita dorong dengan menggunakan plastik berbahan dasar bioplastik. Ini jauh lebih ramah lingkungan ketimbang dari minyak," katanya.
Di samping mendorong penggunaan bioplastik, ia juga berharap agar situasi global di Timur Tengah bisa segera berakhir. Pasalnya, perang berkepanjangan memiliki dampak negatif ke berbagai macam aspek dan juga lapisan masyarakat.
"Tentu kita berharap situasi global segera membaik, perang-perangan cukuplah, ini siapa yang perang kita sedunia ikut terasa. Ini bukan soal elit yang terasa," katanya.
Terlepas dari dampak perang, Indonesia sejauh ini memang acapkali terkendala persoalan bahan baku. Misalnya bahan baku plastik sejauh ini Indonesia masih kalah dengan negara di Timur Tengah dan Tiongkok.
"Jadi kita kalau bicara plastik sering juga kalah dari Timur Tengah dan China karena mereka punya bahan dasar lebih murah. Tapi kita juga punya kok, cuma kuantitasnya saja yang harus ditingkatkan," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....