Harga Telur Anjlok, Peternak Ayam Petelur Lamongan Merugi

  • 03 Jun 2026 13:00 WIB
  •  Tuban

RRI.CO.ID, Lamongan - Usaha peternakan ayam petelur di Kabupaten Lamongan menghadapi tekanan akibat merosotnya harga telur di tingkat peternak. Dalam sebulan terakhir, harga telur terus mengalami penurunan hingga menyentuh Rp. 21.500 per kilogram, jauh di bawah harga normal yang biasanya berada di kisaran Rp. 25.000 hingga Rp. 26.000 per kilogram.

Kondisi tersebut membuat banyak peternak kesulitan menutupi biaya produksi yang terus meningkat, terutama harga pakan pabrikan yang mengalami kenaikan signifikan. Salah satu peternak ayam petelur di Desa Sumberrejo, Kecamatan Mantup, Supardi Hardy, mengaku kondisi saat ini sangat memberatkan peternak skala kecil.

Menurutnya, pendapatan dari hasil penjualan telur tidak lagi sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan setiap hari. "Harga telur saat ini mengalami penurunan cukup besar. Kalau kondisi ini terus berlangsung, peternak rakyat terancam gulung tikar," ujarnya, Rabu, 3 Juni 2026.

Ia menjelaskan, selain harga jual telur yang rendah, peternak juga dihadapkan pada kenaikan harga pakan pabrikan. Jika sebelumnya harga pakan berada pada kisaran Rp. 390.000 hingga Rp. 395.000 per karung berisi 50 kilogram, kini naik menjadi antara Rp. 410.000 hingga Rp. 450.000 per karung.

Kenaikan biaya pakan yang tidak diimbangi dengan harga jual telur menyebabkan margin keuntungan peternak semakin menipis. Bahkan, sebagian peternak mengaku mulai mengalami kerugian dalam operasional harian.

Atas kondisi tersebut, para peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga telur sekaligus mengendalikan harga pakan agar tetap terjangkau. "Kami berharap pemerintah segera melakukan intervensi pasar untuk menstabilkan harga telur dan menurunkan harga pakan ayam pabrikan," katanya.

Selain persoalan harga, Supardi juga menyoroti dugaan adanya praktik tata niaga yang tidak sehat dalam rantai distribusi telur. Ia meminta pemerintah melakukan pengawasan lebih ketat terhadap kemungkinan adanya pihak-pihak yang memainkan harga di pasaran.

Menurutnya, peternak rakyat dengan populasi ayam di bawah 10.000 ekor menjadi kelompok yang paling rentan terdampak kondisi tersebut. Tanpa adanya perlindungan dan kebijakan yang berpihak kepada peternak kecil, keberlangsungan usaha mereka semakin terancam.

Para peternak khawatir, jika harga telur terus berada di bawah biaya produksi dalam waktu yang lama, banyak peternak mandiri di Lamongan terpaksa menghentikan usahanya karena tidak mampu menanggung kerugian yang terus berulang. Mereka berharap pemerintah pusat maupun daerah segera mengambil langkah strategis untuk menjaga keseimbangan harga komoditas peternakan, sehingga usaha peternakan rakyat tetap dapat bertahan dan mendukung ketahanan pangan nasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....