Harga Bahan Songkok Melonjak, Pengrajin di Lamongan Bertahan

  • 20 Apr 2026 14:07 WIB
  •  Tuban

RRI.CO.ID, Lamongan - Di tengah geliat kebangkitan ekonomi kreatif, para pengrajin songkok di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, justru menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga bahan baku dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan tersebut membuat biaya produksi meningkat signifikan, sementara harga jual di pasaran masih tertahan demi menjaga daya beli masyarakat. Kondisi ini dirasakan langsung oleh para pelaku usaha di sentra industri songkok Kecamatan Kalitengah.

Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas produksi masih berjalan seperti biasa. Deru mesin jahit terdengar bersahutan dari rumah-rumah produksi. Namun, di balik itu, para pengrajin menyimpan kekhawatiran terhadap keberlangsungan usaha mereka.

Salah satu pengrajin di Desa Butungan, Ainur Rokim, mengungkapkan bahwa sejumlah bahan pendukung mengalami kenaikan harga yang cukup drastis.

“Semua naik. Plastik mika sekarang sudah Rp 240 ribu untuk ukuran 25 meter, sebelumnya hanya Rp 220 ribu,” ujarnya, Senin 20 April 2026.

Tidak hanya plastik mika, harga kertas juga mengalami kenaikan menjadi Rp 30.000 per kodi. Selain itu, harga kardus dan kantong plastik sebagai bahan pengemasan turut merangkak naik, menambah beban biaya produksi.

Di tengah kenaikan tersebut, para pengrajin sedikit terbantu karena harga kain bludru impor asal Korea yang menjadi bahan baku utama masih relatif stabil di kisaran Rp 94.000 per yard.

Kecamatan Kalitengah selama ini dikenal sebagai pusat industri songkok terbesar di Lamongan. Ratusan warga menggantungkan hidup dari sektor ini, dengan distribusi produk yang telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia.

Saat ini, para pengrajin masih mempertahankan harga jual songkok di kisaran Rp 21.000 per buah. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pasar dan daya beli konsumen.

Namun demikian, para pelaku usaha mengaku tidak dapat bertahan lama jika tren kenaikan harga bahan baku terus berlanjut. “Kalau satu bulan ke depan masih naik terus, terpaksa harga jual kami naikkan untuk menghindari kebangkrutan,” kata Ainur.

Para pengrajin berharap adanya perhatian dari pemerintah, baik dalam bentuk stabilisasi harga bahan baku maupun dukungan terhadap pelaku usaha kecil, agar industri songkok sebagai salah satu produk unggulan daerah tetap bertahan dan berkembang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....