Harga Obat Pertanian Melonjak, Petani di Palang Tuban Beralih Metode Organik

  • 11 Agt 2026 17:19 WIB
  •  Tuban

‎RRI.CO.ID, Tuban - Puluhan petani dari enam desa di Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, memilih untuk meninggalkan ketergantungan pada bahan kimia dan mulai mengadopsi metode pertanian semi organik. Langkah ini diambil guna mengatasi persoalan klasik yang kian menjepit modal tanam, mulai dari penurunan tingkat kesuburan tanah, ancaman serangan jamur, hingga melonjaknya harga obat-obatan pertanian buatan pabrik.

‎Metode ramah lingkungan ini diadopsi setelah terbukti berhasil diterapkan di lahan percontohan (demplot) di Desa Sumurjalak. Salah seorang petani asal Desa Glodog, Jasmat, mengungkapkan bahwa penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan selama bertahun-tahun justru berdampak buruk pada lahan pertanian mereka.

‎‎Tanah menjadi semakin keras, sementara biaya untuk membeli obat-obatan di pasaran terus meroket tanpa diimbangi hasil panen yang sepadan. "Kami butuh cara baru yang lebih efisien agar biaya tanam tidak terus membengkak," ujarnya, Senin 10 Agustus 2026.

‎Sebagai respons atas himpitan modal tersebut, para petani dari Desa Leran Kulon, Glodog, Pucangan, Cendoro, Ngimbang, Gesing, dan Sumurjalak berkumpul di Balai Dusun Jalak, Desa Sumurjalak. Melalui forum ruang belajar bertajuk "Ngudar Tani". Mereka secara bersama-sama mempelajari teknik budidaya yang lebih hemat biaya sekaligus ramah lingkungan.

‎‎Pola tanam baru ini dinilai sebagai solusi konkret untuk meredam kekhawatiran gagal panen yang kerap dipicu oleh serangan nematoda dan tingkat keasaman tanah yang tinggi. Pengalaman di demplot Sumurjalak menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap pestisida kimia yang mahal justru memperlemah daya tahan tanaman dalam jangka panjang.

‎‎Dalam forum tersebut, para peserta diberikan pelatihan praktis untuk meracik fungisida secara mandiri menggunakan bahan-bahan yang terjangkau dan mudah dijumpai, seperti kombinasi belerang, KOH, dan garam. Selain itu, mereka juga diajarkan cara membuat Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dari bahan jagung manis dan obat gendar untuk memaksimalkan pengisian malai padi tanpa harus bergantung pada formula pabrik.

‎‎Inisiatif pelatihan ini merupakan bagian dari Program Pertanian Berkelanjutan dan Aman yang diinisiasi oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas, dengan menggandeng Yayasan eL-SAL Indonesia sebagai mitra pelaksana. Perwakilan EMCL, Joni Wicaksono, menjelaskan bahwa pendekatan berbasis pemecahan masalah ini dirancang agar inovasi yang sukses di satu titik dapat disebarluaskan dan direplikasi oleh masyarakat di sekitar wilayah operasi.

‎‎"Ketika petani mampu menyelesaikan masalah lahannya melalui racikan mandiri, modal produksi dapat ditekan dan efisiensi meningkat," ucap Joni. Ia berharap, transfer pengetahuan antarpetani ini dapat menjadi pengungkit produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan usaha tani di daerah.

‎‎Mengingat para petani di wilayah tersebut merupakan penggarap lahan yang berada di sepanjang jalur pipa minyak Blok Cepu. Joni juga menekankan pentingnya sinergi dalam menjaga keamanan serta keselamatan bersama. Menurutnya, kelangsungan jalur pipa migas tersebut tetap terjaga berkat dukungan nyata dari masyarakat sekitar, khususnya para petani.

‎‎Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Yayasan eL-SAL Indonesia, Imam Muqroni, menjelaskan bahwa selain fokus pada pemulihan kesehatan tanah, forum ruang belajar ini secara konsisten menyisipkan edukasi prosedur keselamatan (do and don'ts). Langkah ini krusial mengingat aktivitas pertanian warga beririsan langsung dengan jalur fasilitas hulu migas.

‎‎Pesan-pesan keselamatan tersebut disampaikan secara berkelanjutan untuk memperkuat budaya saling menjaga. “Petani nyaman, pipa aman, semua selamat,” kata Imam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....