Lapas Tuban Sulap Jeruji Besi jadi Wadah Kreativitas dan Ekonomi Mandiri

  • 14 Apr 2026 11:59 WIB
  •  Tuban

‎‎RRI.CO.ID, Tuban – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tuban terus berkomitmen mengubah stigma negatif lembaga pemasyarakatan menjadi tempat produktif. Melalui serangkaian program pembinaan kemandirian. ‎

‎Para warga binaan kini telah disibukkan dengan berbagai aktivitas kreatif, mulai dari produksi kuliner, kerajinan tangan (kriya), jasa bengkel pengecatan mobil, hingga rencana kedepan tentang pelatihan pembuatan paving block.

‎Kepala Lapas Kelas IIB Tuban, Irwanto Dwi Yhana Putra, menjelaskan dari lembaga pemasyarakatan Tuban, selain menjalankan tugas pengamanan terhadap warga binaan, juga berkewajiban untuk melaksanakan pembinaan terhadap mereka.‎

‎Sejauh ini, pihaknya telah mengusung dua pilar utama dalam membimbing warga binaan, yaitu melalui pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian.

Hasil seni karya warga binaan yang terbuat dari kertas bekas. (Foto: RRI/Witra)

‎"Kami mengimplementasikan program aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan untuk mendorong warga binaan agar mampu hidup mandiri setelah bebas nanti. Masa efisiensi ini bukan menjadi penghalang, justru menjadi pemicu kami untuk semakin gencar berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak swasta," ujar Irwanto kepada rri.co.id, Selasa 14 April 2026.‎

Lapas Tuban juga telah menjalin sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder), seperti Pemerintah Kabupaten Tuban, dan beberapa perusahaan seperti PLTU Tanjung Awar-Awar dan PT Solusi Bangun Indonesia, yang berkomitmen membantu pengembangan serta pemasaran produk.

‎Saat ini, produk-produk unggulan warga binaan juga telah mengantongi sertifikat halal dan sedang dalam proses penerbitan PIRT. Oleh sebab itu, pemasarannya pun kian meluas, meliputi Car Free Day (CFD), Outlet resmi, hingga Pameran UMKM dan event kedinasan.‎

‎"Beberapa waktu lalu kami juga bersinergi dengan Kejaksaan Negeri Tuban dalam pertemuan Dharma Yukti Karini se-Jawa Timur. Kemarin kita juga sudah mengirimkan produk ke kantor wilayah untuk selanjutnya mengikuti Indonesian Present Product and Art Festival, dalam peringatan Hari bakti Masyarakatan ke-62," jelasnya.‎

Warga binaan perempuan saat merajut benang menjadi produk tas. (Foto: RRI/Witra)

‎Bagi para warga binaan, kegiatan ini adalah secercah harapan. Nunuk (45), salah satu warga binaan perempuan, mengaku hari-harinya kini lebih berwarna dengan aktivitas menjahit dan merajut.

‎"Aktivitas positif ini membuat kami tidak merasa bosan. Melalui kegiatan menjahit dan merajut ini, kami merasa tetap berdaya meski di dalam sini," ucapnya.

‎Dari kegiatan positif yang ditekuninya, ia bersama warga binaan perempuan lainnya mampu menghasilkan produk seperti tas, dompet, boneka, hingga pakaian.

Produk olahan keripik tempe saat dikemas oleh warga binaan. (Foto: RRI/Witra)

‎Hal senada dirasakan oleh Farid (32). Ia yang dulunya tidak memiliki keahlian di bidang kuliner, kini mahir memproduksi keripik tempe. Tak hanya itu, ia dan rekan-rekannya terampil menyulap limbah koran menjadi miniatur kapal, celengan, hingga karikatur wajah yang bernilai seni tinggi.

‎"Dulu saya tidak bisa buat keripik, sekarang sudah bisa menjualnya berkat fasilitas dan relasi yang dibangun pimpinan Lapas. Hasilnya bisa menambah ekonomi kami selama menjalani masa tahanan," kata Farid.

Sementara untuk kriya, produk yang dijual mayoritas berdasarkan permintaan pesanan. Harga yang dibandrol pun cukup terjangkau, kisaran Rp30 ribu - Rp150 ribu saja, tergantung kerumitannya. "Pesanan produk kriya sejauh ini cukup ramai, Alhamdulillah banyak yang pesanan. Untuk pengerjaannya, satu kapal antara lima sampai enam hari," tambahnya.

Pembuatan karikatur kapal dari koran bekas. (Foto: RRI/Witra)

‎Program ini tidak hanya bermanfaat bagi individu warga binaan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kas negara. Melalui mekanisme bagi hasil yang transparan, Lapas Tuban telah rutin menyetorkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

‎"Dari total penjualan, 50 persen kembali ke modal, 35 persen untuk premi atau upah warga binaan, dan 15 persen kami setorkan ke negara. Tahun lalu kami menyetor sekitar Rp6 juta, dan semoga tahun ini angka tersebut bisa meningkat," tegas Irwanto.

‎Bagi masyarakat yang ingin mendukung karya warga binaan, produk-produk berkualitas ini dapat dibeli langsung di Lapas Tuban, mengunjungi media sosial resmi Lapas, atau mendatangi booth mereka di area Car Free Day.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....