Wilayah Kepulauan Jadi Tantangan Utama Perencanaan Kesehatan di Maluku Tenggara
- 10 Jun 2026 09:34 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur – Karakteristik wilayah kepulauan menjadi tantangan utama yang harus diperhitungkan dalam penyusunan program dan pelayanan kesehatan di Kabupaten Maluku Tenggara. Karena itu, perencanaan kesehatan yang terpadu, terintegrasi, dan melibatkan berbagai pihak dinilai penting untuk menjamin layanan kesehatan tetap menjangkau masyarakat hingga wilayah terluar.
Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Pendamping Tata Kelola Program Kesehatan Tahun 2026, Dr. Setya Haksama, dalam Workshop Analisis Situasi Proses Penyusunan Rencana Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara di Aurelia Hotel Kimson Langgur, Selasa (9/6/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pendampingan yang dilaksanakan Biro Perencanaan dan Penganggaran Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.
Setya mengatakan pembangunan kesehatan saat ini berada dalam situasi yang penuh tantangan karena dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi geografis, perubahan global, hingga dinamika geopolitik. Tantangan tersebut harus diantisipasi melalui dokumen perencanaan yang mampu menjawab kebutuhan daerah secara nyata.
“Kita saat ini berada dalam kondisi yang penuh tantangan. Pembangunan kesehatan sangat dipengaruhi oleh kondisi wilayah, terutama di daerah kepulauan seperti Kabupaten Maluku Tenggara,” katanya.
Ia mencontohkan kondisi transportasi laut menuju sejumlah wilayah di Kepulauan Kei yang kerap terhambat cuaca ekstrem. Situasi tersebut berdampak langsung terhadap distribusi obat-obatan, alat kesehatan, maupun kebutuhan layanan kesehatan lainnya.
“Saya melihat langsung saat perjalanan ke Elat. Ketika musim hujan atau angin barat, kapal tidak bisa berlayar sehingga distribusi obat-obatan dan alat kesehatan berpotensi mengalami keterlambatan. Kondisi seperti ini membutuhkan perencanaan yang luar biasa,” ujarnya.
| Baca juga: Penyakit Struk, Penyakit yang Mematikan |
Selain tantangan geografis, Setya menilai perkembangan geopolitik dan arus globalisasi juga memberi pengaruh terhadap pembangunan sektor kesehatan. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu menyiapkan strategi yang adaptif agar pelayanan kesehatan tetap berjalan efektif di tengah berbagai perubahan yang terjadi.
Menurutnya, penyusunan perencanaan kesehatan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan dukungan dan keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Karena itu, workshop tersebut turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan guna memperkuat sinergi dalam pembangunan kesehatan daerah.
Setya menjelaskan pendekatan yang digunakan dalam pembangunan kesehatan adalah konsep Penta Helix yang melibatkan lima unsur utama, yakni pemerintah, akademisi, masyarakat dan organisasi non-pemerintah, dunia usaha, serta media. Kolaborasi kelima unsur tersebut diyakini mampu meningkatkan efektivitas pelaksanaan program kesehatan di daerah.
“Penta Helix memiliki peran yang sangat penting. Jika seluruh unsur dapat terkoordinasi dengan baik, program-program kesehatan akan berjalan lebih efektif, efisien, dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia berharap kolaborasi yang dibangun melalui kegiatan pendampingan ini dapat berkembang menjadi forum bersama yang berfokus pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Maluku Tenggara. Forum tersebut nantinya dapat menjadi wadah koordinasi lintas sektor dalam mendukung kinerja Dinas Kesehatan dan memperkuat upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....